Page 90 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 05 MARET 2020
P. 90

Terburu-buru  Dalam aksi demo itu, para mahasiswa menentang pengesahan RUU
               Omnibus Law karena banyak merugikan kaum buruh dan rakyat banyak. Terlebih,
               pemerintah tak banyak melibatkan masyarakat dan tak transparan dalam
               penyusunannya.


                "Apa yang disampaikan pemerintah dalam merumuskan Omnibus Law terkesan
               terburu-buru. Sehingga akhirnya partisipasi masyarakat sendiri yang menjadi poin
               penting tidak ada," kata Koordinator Pusat BEM-SI Remy Hastian di lokasi unjuk
               rasa.

                Para mahasiswa menyoroti sejumlah aturan dalam RUU tersebut. Misalnya,
               penghapusan upah minimum kota, penghapusan pesangon, dan penghapusan batas
               kontrak tenaga kerja yang merugikan kaum buruh.

                 Selain itu, mahasiswa juga menaruh perhatian pada dampak lingkungan akibat
               RUU itu. Mereka menolak penyederhanaan izin investasi yang memangkas
               kewajiban perusahaan dalam izin lingkungan.

                "Yang jadi penolakan bagi kita adalah Omnibus Law ini bisa dibilang adalah cacat
               formil, kita tekankan bahwa perundang-undangan yang ada," ucapnya.

                RUU Omnibus Law Cipta Kerja sendiri telah diserahkan oleh Pemerintah ke DPR
               pada Rabu (12/2). RUU itu termasuk dalam Prolegnas Prioritas Tahun 2020.

                Aturan itu merupakan usulan Presiden Joko Widodo di periode kedua
               pemerintahannya. Dia mengklaim RUU itu dapat memangkas regulasi dan
               mempermudah investasi  (dhf/arh).








































                                                       Page 89 of 105.
   85   86   87   88   89   90   91   92   93   94   95