Page 559 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 4 MEI 2020
P. 559
Title MAYDAY: PERLUNYA PERUBAHAN MENDASAR SISTEM PERBURUHAN INDONESIA
Media Name wartaekonomi.co.id
Pub. Date 01 Mei 2020
https://www.wartaekonomi.co.id/read283733/mayday-perlunya-perubahan-me ndasar-
Page/URL
sistem-perburuhan-indonesia
Media Type Pers Online
Sentiment Positive
Peringatan hari buruh tahun ini menjadi salah satu masa paling kelam bagi buruh.
Pasalnya, pada masa pandemi Covid-19 ini, banyak buruh yang dipecat oleh
perusahaan. Alasannya karena bisnis secara keseluruhan tutup atau karena
dilakukannya pengetatan pengeluaran karena bisnis sedang seret.
Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES), Suroto, menilai, apa pun
alasannya, orang yang kehilangan pekerjaan itu hidupnya seperti ditabrak petir.
Apalagi ketika tidak punya tabungan dan penghasilanya sebulan bukanya jadi
andalan untuk menopang hidup bagi dirinya dan keluarga.
"Posisi buruh sebetulnya dalam perusahaan konvensional kapitalis itu tak lebih
hanyalah sebagai alat produksi. Mereka tak ubahnya mesin profit untuk kepentingan
investornya. Dalam posisi sebagai objek, biaya gaji buruh untuk itu perlu ditekan
sehingga hanya cukup untuk bertahan hidup agar profitnya maksimal," ujar Suroto
di Jakarta, Jumat (1/5/2020).
Untuk itu, lanjut dia, para pemilik perusahaan merasa perlu bekerja sama dengan
manajemen atas dan tengah untuk kendalikan buruh di posisi paling bawah. Kerap
kali orang manajemen, begitu biasa buruh menyebutnya, cenderung banyak
membela kepentingan pengejaran profit para pemilik, majikan perusahaan daripada
membela kepentingan anak buah mereka di bawah. Bahkan, mereka adalah orang-
orang yang mendapatkan gaji dan bonus terbesar di perusahaan.
Sebagai ilustrasi misalnya, gaji dan kompensasi untuk direksi bank BUMN seperti
bank BRI dan Mandiri itu setiap bulannya rata-rata 5 miliar rupiah dan bandingkan
dengan OB dan satpamnya yang hanya 3,4 juta dan masih ditekuk potongan hingga
1 jutaan oleh perusahaan penyedia tenaga kerja ( outsourching ).
"Gaji buruh terbawah itu hanya 0.048 persennya dari seorang direksi. Atau 2000 kali
lipatnya!!!!. Walaupun si direktur itu dan si buruh sama-sama manusia dan
keburuhan hidupnya sama," tuturnya.
Termasuk ketika terjadi krisis #covid19. Buruh atas dan tengahan melakukan
pekerjaan dari rumah #workfromhome atau kerja dari rumah. Buruh kelas bawah
tetap berjibaku dengan mesin di pabrik. Ketika ekonomi surut seperti saat ini, orang
di bawah sebagai kelompok terlemah ini yang pertama dipecat.
Page 558 of 695.

