Page 37 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JUNI 2020
P. 37

Organisasi  Kesehatan  Dunia  (WHO)  memberikan  rekomendasi  prasyarat  ketat  yang  harus
              dipenuhi negara terdampak Covid-19 untuk dapat menerapkan normal baru. Beberapa syarat
              itu  di  antaranya  pembuktian  keberhasilan  dalam  menekan  penyebaran  virus,  penyediaan
              fasilitas kesehatan dan upaya penanganan memadai, pemberlakuan protokol kesehatan, serta
              pelibatan masyarakat secara optimal dalam penerapan kebiasaan baru sesuai prosedur.

              Selaras dengan hal tersebut, 40,3 persen responden sepakat bahwa pemberlakuan normal baru
              merupakan langkah tepat, tetapi tetap harus dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan untuk
              mencegah penularan virus. Sekitar 20 persen responden lain menyatakan, pemberlakuan normal
              baru seharusnya hanya dilakukan untuk daerah yang berstatus zona hijau.

              Responden menyadari upaya hidup berdampingan dengan Covid-19 bukan tanpa risiko. Sekitar
              28  persen  responden  mengaku  cemas  terhadap  adanya  gelombang  penularan  kedua  akibat
              pelonggaran pembatasan di tengah belum redanya pandemi.

              Sementara itu, 20 persen responden lain justru menaruh kekhawatiran pada realisasi penerapan
              normal  baru  oleh  pemerintah.  Kebijakan  penanganan  Covid-19  yang  sering  kali  tak  selaras
              antara pemerintah pusat dan daerah membuat efektivitas serta keberhasilan penerapan tatanan
              baru dipertanyakan.

              Secara garis besar, dalam hal penanganan Covid-19, pemerintah pusat memang memberikan
              keleluasaan kepada daerah untuk bertindak dan bertanggung jawab atas kebijakan yang diambil
              di daerah masing-masing. Namun, hal tersebut justru mengesankan kerja penanganan Covid-
              19 cenderung kurang ter-koordinasi baik. Padahal, kerja penanganan Covid-19, terlebih lagi
              dalam penerapan normal baru, memerlukan ketegasan arahan, pengawasan, dan evaluasi guna
              memastikan penerapannya beijalan baik.

              Sosialisasi

              Kecenderungan  belum  optimalnya  sinergi  pusat-daerah  sangat  mungkin  menimbulkan
              kebingungan publik dalam memahami konsep dan tujuan normal baru. Sebanyak 96,2 persen
              responden  menyatakan  mengetahui  rencana  pemerintah  untuk  menerapkan  normal  baru.
              Namun, pemahaman yang berkembang dalam ruang sosial justru masih beragam.

              Sebanyak  72,9  persen  responden  menangkap  penerapan  normal  baru  yang  dikampanyekan
              pemerintah merupakan konsep hidup berdampingan dengan Covid-19 tentunya sesuai protokol
              kesehatan.  Sementara  14,4  persen  responden  lebih  melihat  kebijakan  normal  baru  sebagai
              upaya pemulihan aktivitas perekonomian untuk menghindari resesi di masa pandemi.

              Sebanyak  11,2  persen  responden  lain  menyatakan  tatanan  kehidupan  baru  yang  dimaksud
              pemerintah adalah cara menyelamatkan masyarakat dari krisis kesehatan dan ekonomi akibat
              pandemi secara bersamaan.

              Beragamnya respons publik menjadi sinyal bahwa pemerintah punya pekerjaan rumah untuk
              mengedukasi  publik  dengan  komunikasi  efektif  yang  mudah  diterima.  Proses  memupuk
              pengetahuan  dan  rasa  tanggung  jawab  publik  merupakan  hal  paling  penting  yang  menjadi
              landasan membangun kebiasaan (baru) masyarakat.

              Sebanyak 55 persen responden mengaku sosialisasi pemerintah terkait penerapan normal baru
              sudah mulai cukup gencar dilakukan di daerahnya.
              Namun, sepertiga responden lainnya mengaku justru mengalami sebaliknya.

              Metode edukasi kepada masyarakat saat ini tak melulu harus dilakukan dengan penyampaian
              informasi secara langsung. Namun, juga banyak dilakukan dengan menggunakan alat bantu
              peraga, seperti spanduk, poster, dan kampanye melalui media sosial.

                                                           36
   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42