Page 32 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JUNI 2020
P. 32

Ekonom  senior  Institute  for  Development  of  Economics  and  Finance  (Indef),  Aviliani
              mengungkapkan, bila dulunya setiap 1% pertumbuhan ekonomi bisa menyerap sekitar 500.000
              tenaga kerja, saat ini yang bisa tererap hanya sekitar 200.000 tenaga kerja.



              PERTUMBUHAN EKONOMI RENDAH, ANGKATAN KERJA BARU MAKIN SULIT
              TERSERAP

              Melambatnya penumbuhan ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berdampak pada semakin
              sulitnya angka kerja baru mendapatkan pekerjaan, begitu juga dengan angkatan kerja lama.
              Untuk skenario berat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 ini diproyeksikan sebesar
              2,3%, sementara skenario yang lebih berat bisa minus 0.4%.

              Ekonom  senior  Institute  for  Development  of  Economics  and  Finance  (Indef),  Aviliani
              mengungkapkan, bila dulunya setiap 1% pertumbuhan ekonomi bisa menyerap sekitar 500.000
              tenaga kerja, saat ini yang bisa tererap hanya sekitar 200.000 tenaga kerja.

              Sehingga bila pertumbuhan ekonomi diproyekisikan sekitar 2%, berarti akan banyak angkatan
              kerja baru yang tidak terserap, di mana setiap tahunnya ada sekitar 2 juta hingga 2,5 juta
              angkatan kerja baru.
              "Bila pertumbuhan ekonominya hanya sekitar 2%, angkatan kerja baru yang terserap hanya
              400.000 orang. Berarti akan ada lebih dari 1.5 juta yang tidak mendapatkan pekerjaan atau
              menganggur." kata Aviliani dalam diskusi 'Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia di Tengah
              Protokol Ekonomi New Normal' melalui webinar yang digelar akhir pekan lalu.

              Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, jumlah orang yang menganggur hingga Februari
              2020 sebanyak 6,88 juta orang. Sementara itu berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan
              hingga  akhir  Mei  2020, sebanyak  3.066.567 pekerja  telah  terdampak  Covid-19,  baik  di-PHK
              maupun  dirumahkan.  Dari  jumlah  tersebut.  1.757.464  data  sudah  kita  ketahui  by  name-by
              address. Sisanya, 1.274.459 pekerja masih dilakukan cleansing.

              Dari sebanyak 1.757.464 pekerja terdampak Covid-19, sebanyak 380.221 pekerja di antaranya
              merupakan pekerja sektor formal ter-PHK.
              Sisanya, 1.058.284 pekerja sektor formal dirumahkan dan 318.959 pekerja informal (termasuk
              UMKM) yang terdampak.

              Aviliani mengungkapkan, pada Juli 2020 nanti, akan banyak perusahan yang mulai mengalami
              kesulitan cashflow, sehingga PHK yang semakin besar bisa saja terjadi.

              "Kita harapkan Juli nanti demand sudah mulai meningkat, walaupun sepertinya belum akan
              meningkat karena ini tergantung pendapatan. Sehingga yang terjadi perusahaan akan mulai
              mengalami problem di cashflow, dan PHK bisa terjadi. Sekarang ini di sektor usaha besar belum
              terjadi PHK yang besar-besaran, baru di sektor UMKM duluan." kata Aviliani.

              Di  sisi  lain,  Aviliani  melihat  adanya  pandemi  Covid-19  telah  mengubah  cara  perusahaan
              mempekerjakan  karyawannya.  Apalagi  sistem  Work  From  Home  (WHF)  nyatanya  terbukti
              efektif,  sehingga  ke  depan  akan  banyak  perusahaan  yang  mempekerjakan  karyawan  tanpa
              harus datang ke kantor.

              "Sejak  adanya  covid-19,  terjadi  perubahan  dalam  paradigma  organisasi  atau  perusahaan.
              Ternyata  W  FH  itu  sangat  efektif,  sehingga  kemudian  banyak  peruahaan  yang  akan
              meneruskan. Misalnya saja Google yang masih akan menerapkan WFH, kemudian di perusahaan
              mobil di Italia yang masuk kerja hanya bagian produksis aja, yang bukan selamanya kerja di


                                                           31
   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37