Page 95 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JUNI 2020
P. 95
Sementara itu, dari sisi ekspektasi, menurut Onny, konsumen masih punya harapan yang relatif
positif terhadap kondisi perekonomian dalam jangka waktu enam bulan mendatang. Masyarakat
tetap yakin bahwa ketersediaan lapangan kerja dan penghasilan akan membaik.
Tapi, semua itu hanya akan terjadi jika pemerintah berhasil menekan persebaran virus SARS-
CoV-2.
Imbauan diam di rumah dan penjarakan fisik sampai pembatasan sosial berskala besar (PSBB)
belum berhasil meredam pandemi. Jumlah pasien masih terus bertambah. Sementara itu,
sejumlah sektor usaha mulai menjalankan bisnis dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-
19 dengan ketat. Semangat pemulihan yang kontradiktif dengan data di lapangan itu justru
membuat masyarakat makin skeptis.
Terpisah, ekonom Bank Permata Josua Pardede menyatakan bahwa IKK berkaitan erat dengan
persepsi masyarakat terhadap kondisi perekonomian terkini. Dia menambahkan, sisi pendapatan
dan ketersediaan pendapatan menjadi dua fakor penting dalam mengukur konsumsi
masyarakat.
"Dua hal itu memberikan sinyal bahwa seiring usainya PSBB dan bergulirnya masa transisi ini,
permintaan terhadap tenaga kerja belum sepenuhnya pulih," terang Josua kepada JPG tadi
malam Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menunjukkan langkanya permintaan
tenaga kerja. Per 2 Juni lalu jumlah penganggur bertambah sebanyak 3,05 juta. Di sisi lain,
pendapatan masyarakat pada masa pandemi juga turun. Itu terlihat pada data inflasi Mei.
Terjadi deflasi pada komponen barang volatil.
Padahal, normalnya, Mei menjadi puncak permintaan segala jenis barang. Terutama konsumsi.
Apalagi, Idul Fitri juga jatuh pada Mei. Namun, pandemi mengubah kondisi tersebut. "Penurunan
IKK cenderung diakibatkan masalah pengangguran. Itu kemudian yang memengaruhi tingkat
pendapatan dan daya beli masyarakat," jelasnya, (han/cl 1/hep/jrr)
94

