Page 556 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 NOVEMBER 2021
P. 556

DEMO BURUH TUNTUT ANIES CABUT SK PENETAPAN UMP, LALU LINTAS DI BALAI
              KOTA DIALIHKAN
              Petugas Satuan Lalu Lintas Polres Metro Jakarta Pusat merekayasa arus lalu lintas kendaraan
              secara  situasional  terkait  unjuk  rasa  mahasiswa  dan  buruh  tergabung  dalam  Gerakan  Buruh
              Bersama Rakyat (Gebrak) di sekitar Balai Kota DKI Jakarta pada Senin (29/11).

              "Saat ini belum ada (jalan) yang dialihkan. Situasional saja. Rencana aksi kan hanya di depan
              Balai  Kota  DKI,"  kata  Kepala  Satlantas  Polres  Metro  Jakarta  Pusat  Kompol  Purwanta  saat
              dikonfirmasi di Jakarta.

              Purwanta mengatakan, jumlah massa yang turun ke jalan berkisar 400 orang atau lebih sedikit
              dibandingkan aksi buruh pada Kamis (25/11) lalu. Sementara itu, personel gabungan dari Polri,
              TNI, dan Pemprov DKI Jakarta menggelar apel pasukan gabungan terkait persiapan pengamanan
              aksi pada siang nanti. Apel dipimpin oleh Wakil Kapolres Metro Jakarta Pusat Ajun Komisaris
              Besar Polisi Setyo Koes Heriyatno di Lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat. Sam menyebutkan
              sebanyak 1.499 personel gabungan dari TNI, Polri, dan Pemprov DKI Jakarta akan mengawal
              aksi dari aliansi buruh dan mahasiswa tersebut.

              "Telah dilaksanakan TWG dan apel dalam rangka aksi penyampaian pendapat di muka umum
              oleh beberapa aliansi buruh," kata Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Pusat Ajun Komisaris
              Polisi Sam Suharto.

              Adapun  massa  akan  melakukan  aksi  terlebih  dahulu  di  kawasan  industri  Jakarta  Utara  dan
              Tangerang,  kemudian  mengarah  ke  Gedung  Balai  Kota  DKI  Jakarta  untuk  menyampaikan
              tuntutan terkait kenaikan upah minimum provinsi (UMP) sekitar pukul 12.00 WIB. Sebelumnya,
              Ketua  Perwakilan  Daerah  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (Perda  KSPI)  DKI  Jakarta,
              Winarso mendesak Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan untuk mencabut Surat Keputusan
              (SK) terkait penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2022.

              Winarso meminta agar SK tersebut dilakukan revisi berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor
              13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015
              tentang Pengupahan.

              Tuntutan tersebut merespons terbitnya putusan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) yang
              menyatakan bahwa Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja)
              bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak
              mempunyai  kekuatan  hukum  mengikat  secara  bersyarat.  Sehingga,  pemerintah  dengan  DPR
              dituntut melakukan perbaikan pembentukan sesuai dengan tenggang waktu sebagaimana yang
              telah ditentukan di dalam putusan tersebut.

              "Atas keputusan MK ini, seluruh gubernur dan bupati/wali kota di wilayah Republik Indonesia
              wajib mencabut SK perihal UMP (2022) termasuk Gubernur DKI Jakarta. Anies Baswedan harus
              berani mencabut SK terkait UMP 2022," tulis dia dalam keterangannya, Senin (29/11/2021).

              Selain  pencabutan  SK  UMP  tahun  depan,  KSPI  DKI  Jakarta  juga  mendesak  kepada  Anies
              Baswedan  agar  mengembalikan  formula  penetapan  Upah  Minimum  Provinsi  (UMP)  2022
              mengacu berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
              dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.

              "KSPI DKI Jakarta akan kembali turun ke jalan dengan massa aksi besar-besaran mengepung
              Balai  Kota  Jakarta  pada  hari  Senin,  29  November  2021  untuk  meminta  kepada  pemerintah
              provinsi DKI, gubernur Anies Baswedan agar mencabut SK penetapan UMP 2022, melakukan
              revisi dengan kembali mengacu kepada UU Nomor 13 tahun 2003 dan PP nomor 78 tahun 2015,"
              katanya. [gil].

                                                           555
   551   552   553   554   555   556   557   558   559   560   561