Page 576 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 NOVEMBER 2021
P. 576

Ketua Perwakilan Daerah (Perda) KSPI DKI Jakarta Winarso mengatakan aksi yang bakal digelar
              ini bertujuan untuk mendesak Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan untuk mencabut Surat
              Keputusan (SK) terkait penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2022.

              Tak  hanya  itu,  pihaknya  juga  meminta  Anies  Baswedan  untuk  melakukan  revisi  formula
              penetapan  UMP  2022  berdasarkan  Undang-Undang  (UU)  Nomor  13  Tahun  2003  tentang
              Ketenagakerjaan dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.

              "Tuntutan tersebut merespon terbitnya putusan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) yang
              menyatakan bahwa Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja)
              bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak
              mempunyai  kekuatan  hukum  mengikat  secara  bersyarat,"  kata  Winarso  dalam  keterangan
              tertulisnya, dikutip Senin (29/11/2021).

              Atas  keputusan MK  tersebut,  KSPI  menilai  seluruh  gubernur dan bupati/wali  kota di  wilayah
              Republik Indonesia wajib mencabut SK perihal UMP 2022 termasuk gubernur DKI Jakarta.
              "Anies Baswedan harus berani mencabut SK terkait UMP 2022," ucapnya.

              Dengan begitu, dirinya menyatakan KSPI DKI Jakarta akan kembali turun ke jalan dengan massa
              aksi besar-besaran mengepung balaikota Jakarta pada hari ini.

              "KSPI akan memaksimalkan aksi massa sampai dengan gubernur memenuhi tuntutan mereka
              terkait UMP DKI Jakarta tahun 2022 tanpa Omnibus Law yang sudah dinyatakan Inkonsitusional
              oleh MK," tukasnya.

              Tak  hanya  itu,  Winarso  menyebut  KSPI  DKI  memberikan  apresiasi  kepada  MK  atas  putusan
              tersebut.

              Putusan yang dikeluarkan MK itu dinilai sesuai dengan kehendak buruh yang menolak keras
              penerapan  UU  Cipta  Kerja  klaster  sektor Ketenagakerjaan  yang dinilai  tidak  ramah  terhadap
              kaum buruh.




































                                                           575
   571   572   573   574   575   576   577   578   579   580   581