Page 627 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 NOVEMBER 2021
P. 627

keterangan dari dokter Malaysia TCB sudah mengalami trauma dengan kategori berat. Memang
              terlihat yang bersangkutan diajak berbincang sudah tidak nyambung lagi bahkan ia sudah agak
              ambigu dan bejalanpun pincang.

              Diduga  TCB  sedang  mengalami  depresi  atau  tekanan  jiwa  yang  sangat  berat  dialami  atas
              penyiksaan fisik yang dilakukan oleh majikan terhadap dirinya. Selain itu, pada kedua kakinya
              mengalami luka yang sangat serius, kaki sebelah kanan luka dibagian bawah lutut seperti bekas
              diiris dengan pisau dengan ukuran kurang lebih sekitar 4 centimeter. Kemudian di kaki sebelah
              kiri  mengalami  luka  yang  sama  dibagian  telapak  samping  dengan  ukuran  luka  kurang  lebih
              sekitar 6 centimeter serta juga mengalami bengkak yang sangat besar.

              "Saya sudah bertemu dengan anak saya ini di rumah keponakan saya di Tanggerang dan saya
              melihat anak saya dalam keadaan kaki sebelah kiri patah, kaki sebelah kanan luka, lukanyapun
              kayak diiris begitu serta dibadannya banyak mengalami memar-memar intinya tidak sempurna
              lagi," kata Jauli, Minggu (29/11/2021).

              Jauli melanjutkan pada saat dirinya mendampingi anaknya saat ditanya oleh karyawan Ijensie
              perusahaan yang memberangkatkan anaknya di Jakarta, ia mendengar pengakuan dari anaknya
              bahwa ia mendapatkan ancaman dari majikannya.

              "Anak saya akan diancam akan dibunuh dan dicincang (Mutilasi,red) oleh majikanya, maka dia
              kabur  lalu  terjun  diatas  jembatan.  Lalu  ia  diamankan  oleh  Polisi  Malaysia.  saya  menduga
              kekerasan ini terjadi karena ada unsur pemaksaan yang negatif terhadap anak saya," ungkapnya.

              Dijelaskanya,  bahwa  pihak  perusahaan  yang  memberangkatkan  anaknya  sudah  berusaha
              menghubungkan  dengan  pihak  perusahaan  yang  ada  di  Malaysia  untuk  meminta
              pertanggungjawaban atas kejadian ini. Namun sudah dua Minggu anaknya pulang ke kampung
              ini belum ada tindak lanjut dari pihak perusahaan Malaysia.

              "Saya  berharap  kepada  Kedutaan  Besar  Republik  Indonesia  (KBRI)  agar  cepat  mengetahui
              masalah  ini,  supaya  anak  saya  mendapatkan  pertanggungjawaban  yang  penuh  baik  dari
              perusahaan  yang  memberangkatkan  maupun  perusahaan  yang  ada  di  negara  Malaysia,"
              harapnya.

              Diketahui, TCB pulang dari Malaysia tinggal dulu tiga hari di rumah karantina, setelah tiga hari
              kemudian. Hendri (39) pihak keluarga yang pertama kali menemui serta menjemput TCB melalui
              sambungan  via  telpon  mengungkapkan  TCB  dijemput  dari  rumah  karantina  disuruh  oleh
              ayahandanya.

              Kata Hendri, pertama kali ia melihat kedua kaki TCB mengalami bekas luka sangat serius, bekas
              luka tersebut terus saya tanya kepada TCB. Namun, TCB belum mengakui kejadian sebenarnya
              yang  terjadi,  pertama  ia  mengaku  bahwa  dirinya  ingin  bunuh  diri  terjun  dari  jembatan  lalu
              diamankan oleh Polisi Malaysia.

              "Tidak  berselang  lama  TCB  mengakui  kejadian  yang  sebenarnya  terjadi,  bahwa  ia  sempat
              diancam oleh majikannya akan dibunuh dan dicincang (Mutilasi,red) oleh majikanya, lalu ia terjun
              dari rumah majikan dengan ketinggian sekitar 100 Meter," ungkap Hendri (39).


              Berdasarkan informasi PMI tersebut diberangkatkan ke Malaysia pada akhir Tahun 2019 lalu,
              dengan  kontrak  kerja  sekitar  2  Tahun.  Padahal,  tinggal  2  Bulan  lagi  PMI  tersebut  sudah
              menyelesaikan kontrak kerjanya 2 Tahun itu, ternyata TCB belum habis kontrak sudah pulang
              ke Indonesia. (imr).





                                                           626
   622   623   624   625   626   627   628   629   630   631   632