Page 111 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 07 JULI 2020
P. 111
Saudi dan pada 2001 dijatuhi hukuman mati karena didakwa menjadi penyebab majikannya
meninggal dunia. Keluarga korban awalnya meminta diyat atau uang denda 30 juta riyal atau
sekitar Rp107 miliar agar Etty tidak dieksekusi meski akhirnya bersedia memaafkan dengan
jumlah 4 juta riyal.
Dana pembayaran untuk Etty adalah hasil tabarru atau sumbangan para dermawan dari seluruh
Indonesia, termasuk dari Lembaga Zakat Infaq dan Sodaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) yang
penggalangannya dilakukan sejak 2018.
Menaker menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan dan partisipasi dari berbagai lapisan
masyarakat dalam usaha membebaskan Etty serta advokasi yang dilakukan perwakilan
Indonesia di Arab Saudi.
Dia memastikan pemerintah akan terus berusaha memberikan perlindungan kepada pekerja
migran Indonesia (PMI), tidak hanya dalam kasus seperti Etty tapi juga yang mengalami
masalah terkait imigrasi.
"(Pemerintah) terus akan melakukan advokasi, ada beberapa yang prosesnya sudah banyak
juga yang kita bebaskan. Beberapa waktu lalu kita juga memulangkan beberapa teman yang
dibebaskan, besok kita juga akan menjemput teman-teman yang mengalami masalah imigrasi
di Malaysia," kata Menaker.
Etty sendiri mengaku bahagia bisa kembali ke Tanah Air dan mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang sudah bisa membantunya pulang.
"Saya bisa mengucapkan terima kasih semuanya atas dukungan semuanya. Mudah-mudahan
ada hikmahnya untuk semuanya," kata dia.
Etty sendiri mengaku tidak berniat untuk kembali bekerja di luar negeri setelah pengalamannya
di Arab Saudi. (antara).
110

