Page 184 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 07 JULI 2020
P. 184
Ida mengaku senang dengan pembebasan dan kepulangan Etty. Menurutnya, Etty sudah
sepantasnya mendapatkan perlindungan dari negara.
"Pemerintah, khususnya Kemnaker selalu berkomitmen melindungi PMI. Kami bertanggung
jawab atas keselamatan PMI," ucapnya.
Etty binti Toyyib merupakan PMI asal Majalengka, Jawa Barat, yang lolos dari hukuman mati di
Arab Saudi berkat tebusan 4 juta riyal atau Rp 15,5 miliar.
Dalam persidangan, keluarga majikan menuntut hukuman mati kisas dan pengadilan
memutuskan hukuman mati/qisas. Hukuman mati kisas berdasarkan Putusan Pengadilan Umum
Thaif No. 75/17/8 tanggal 22/04/1424H (23/06/2003M) yang telah disahkan Mahkamah Banding
dengan Nomor 307/Kho/2/1 tanggal 17/07/1428 dan telah disetujui Mahkamah Agung dengan
Nomor 1938/4 tanggal 2/12/1429 H karena membunuh majikannya warga negara Arab Saudi,
Faisal bin Said Abdullah Al Ghamdi dengan cara diberi racun.
Mulanya, ahli waris majikan meminta diyat sebesar 30 juta real atau Rp 107 miliar agar Etty
diampuni dan tidak dieksekusi. Namun setelah ditawar dan dilakukan berbagai pendekatan,
akhirnya ahli warisnya bersedia memaafkan dengan diyat sebesar 4 juta riyal Saudi atau Rp
15,2 miliar.
Diyat atau uang denda sebesar 4 juta riyal berhasil dikumpulkan sesuai tuntutan keluarga
sekaligus ahli waris korban. Dana tersebut merupakan hasil 'tabarru' atau sumbangan dari para
dermawan berbagai pihak di Indonesia, termasuk dari Lembaga Zakat Infaq, dan Sodaqah
Nahdlatul Ulama (LAZISNU) yang penggalangannya dilakukan sejak 2018..
183

