Page 95 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 07 JULI 2020
P. 95
hukuman kisas setelah kita upayakan tebusan kepada keluarganya dengan tebusan sebesar
Rp15,5 miliar," ucap Kiai Said dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin.
Etty adalah PMI asal Majalengka, Jawa Barat yang dijatuhi hukuman mati pada 2001 setelah
didakwa menjadi penyebab kematian majikannya. Ahli waris majikannya semula menuntut 30
juta riyal atau sekitar Rp107 miliar sebagai diyat (tebusan), tapi pada 2019 KBRI di Arab Saudi
berhasil bernegosiasi untuk memaafkan dia dengan 4 juta riyal atau sekitar Rp15,5 miliar.
KBRI Arab Saudi lalu melakukan penggalangan dana kepada masyarakat di Tanah Air untuk
membantu pembayaran diyat guna membebaskan Etty dari hukuman mati.
Pembayaran itu mendapat dukungan penuh dari lembaga kemanusiaan di bawah PBNU, NU
Care-LAZISNU, yang berhasil mengumpulkan dana dalam waktu tujuh bulan sebesar Rp12,5
miliar atau 80 persen dari total diyat yang harus dibayarkan.
Dana yang berhasil dikumpulkan itu langsung diserahkan kepada Dubes RI untuk Arab Saudi
Agus Maftuh Abegebriel saat berkunjung ke kantor NU Care-LAZISNU di Jakarta pada 1 Juli
2019.
Etty akhirnya bebas setelah 19 tahun berada di dalam penjara usai membayarkan diyat yang
terkumpul dari santri, pengusaha, politisi, akademisi, dan komunitas filantropi.
"Walhasil dari berbagai pihak yang percaya kepada lembaga NU Care-LAZISNU, amanah bisa
tersampaikan kepada yang berhak dengan sempurna, dengan tidak ada kurang sedikit pun,
bahkan kita berusaha menambah lagi," kata Kiai Said.
Dia bersyukur atas kebaikan para dermawan yang telah peduli dengan nasib PMI yang
menghadapi hukuman mati dan menyampaikan apresiasi kepada Ketua NU Care-LAZISNU,
Ustadz Achmad Sudrajat, yang telah melakukan pengumpulan dana itu.
.
94

