Page 51 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 03 JULI 2020
P. 51

Sejauh ini menurutnya, masukan dari pemerintah cukup diterima dengan baik oleh mayoritas
              pengusaha sehingga pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran dapat diminimalisasi.

              "Memang kami tidak bisa mengontrol semua industri-industri yang menampung tenaga kerja,
              tapi sejauh ini, dengan masukan-masukan yang diberikan cukup efektif dalam menekan angka
              pemutusan hubungan kerja," imbuhnya.

              Direktur  Economic  Institute  (Center  of  Political  Economics  &  Business  Competition)  Bahtiar
              Maddatuang mengatakan, kendati sudah memasuki era new normal tetapi kondisi saat ini penuh
              dengan ketidakpastian sehingga pemutusan hubungan kerja masih sangat rentan dilakukan.

              Sejumlah stimulus dihadirkan oleh pemerintah untuk membantu para karyawan yang terkena
              PHK seperti kartu prakerja dan pemberian bantuan langsung tunai (BLT).

              Hanya  saja,  kata  Bahtiar,  kebijakan  ini  hanya  bersifat  jangka  pendek saja,  sementara  yang
              terkena PHK bersifat jangka panjang.
              "Kebijakan  ini tidak  akan  banyak  memengaruhi  recovery  bagi  mereka yang  di  PHK.  Setelah
              pandemi berakhir bisa saja kebijakan ini juga akan turut menghilang," ujar Bahtiar.

              Menurutnya, pemerintah harus segera menyiapkan semacam desain agar para pengangguran
              bisa aktif kembali bekerja. Stimulus yang dihadirkan harus bersifat jangka panjang dan dapat
              meng-cover mereka yang menjadi korban PHK. Tak melulu soal bantuan khusus berupa uang
              tunai.

              Komunikasi dengan stakeholders seperti Apindo, Kadin, HIPMI dan asosiasi usaha lainnya juga
              perlu dilakukan. Bagaimana menghadirkan kebijakan untuk menarik kembali para pekerja yang
              terkena PHK?

              "Model-model seperti ini yang harus dilakukan pemerintah. Tidak hanya berhenti pada kartu
              prakerja dan BU yang hanya bersifat jangka pendek," jelasnya.

              Tak  hanya  itu,  lanjut  Bahtiar,  tidak  menutup  kemungkinan  pemerintah  juga  mampu
              menciptakan lapangan kerja di tengah kondisi pandemi. Ini dapat dilakukan untuk merangkul
              mereka yang terkena PHK dan menganggur.

              Di sisi lain, pemerintah juga dapat mengimbau para  pengusaha untuk tetap suivive dengan
              melakukan proses produksi, agar dapat tetap menampung tenaga kerja.

              "Ini dapat dilakukan bagi industri atau usaha yang tidak terkena dampak wabah virus corona,"
              katanya.

              Pemerintah  daerah  juga  bisa  menjalankan  peran  Badan  Usaha  Milik  Daerah  (BUMD).  Hasil
              produksi para petani dan masyarakat lainnya, baik yang terkena dampak Covid-19 bisa diserap.

              "Ini untuk tetap menjaga usaha tetap jalan. Bisa jadi alternatif lapangan kerja baru juga untuk
              menahan angka pengangguran lebih tinggi," pungkasnya.

              TRANSFORMASI DIGITAL

              Gelombang pandemi tak hanya menerjang industri kelas besar tetapi juga memberikan pukulan
              keras bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

              Ada sekitar 2.000 UMKM dan 61 koperasi di Sulsel yang mengalami kondisi memprihatinkan,
              mulai dari minimnya penghasilan, tutup sementara, hingga gulung tikar.



                                                           50
   46   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56