Page 152 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JULI 2020
P. 152

pemutusan hubungan kerja atau PHK. Demikian disampaikan Krisna Syarif direksi kepesertaan
              BPJS Ketenagakerjaan kepada media (9/7/2020).



              DATA BPJS 78 PERSEN KLAIM JHT AKIBAT RESIGN DIRAGUKAN

              Direksi  Badan  Penyelenggara  Jaminan  Sosial  (BPJS)  Ketenagakerjaan  mengklaim  bahwa  78
              persen  klaim  jaminan  hari  tua  (JHT)  tercatat  berasal  dari  pekerja  yang  mengundurkan  diri.
              Padahal,  sebelumnya  badan  tersebut  mengantisipasi  lonjakan  klaim  akibat  gelombang
              pemutusan hubungan kerja atau PHK. Demikian disampaikan Krisna Syarif direksi kepesertaan
              BPJS Ketenagakerjaan kepada media (9/7/2020).

              Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan sepanjang Januari-Juni 2020 terdapat 1,15 juta klaim
              Jaminan Hari Tua (JHT) yang diajukan oleh para tenaga kerja. Jumlah tersebut melampaui total
              klaim  pada  tahun-tahun  sebelumnya,  yakni  2017  sebanyak  816.095  klaim,  2018  sebanyak
              840.619 klaim, dan 2019 sebanyak 924.460 klaim.

              Pengajuan klaim JHT dari pekerja yang terkena PHK mencapai 20 persen dan klaim karena
              peserta memasuki usia pensiun mencapai 2 persen.

              Ketua Koordinator Nasional Masyarakat Peduli Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (KORNAS
              MP-BPJS) Hery Susanto melalui siaran persnya di Jakarta (19/7/2020) meragukan data yang
              disampaikan direksi BPJS Ketenagakerjaan tersebut.

              Menurutnya  data  yang  disampaikan  direksi  BPJS  Ketenagakerjaan  itu  berbeda  dengan  data
              Kemnaker RI melalui menaker Ida Fauziah menyebut bahwa jumlah pekerja yang dirumahkan
              atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi Covid-19 bisa lebih dari 3 juta
              orang.

              Menaker  mengatakan  jumlah  pekerja  terdampak  mungkin  saja  lebih  banyak  dari  data  yang
              dimiliki oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), karena masih ada individu terdampak
              yang belum melapor ke Kemnaker atau Dinas Ketenagakerjaan di daerah.

              "Data direksi BPJS Ketenagakerjaan itu diragukan karena hanya berdasarkan administratif bukan
              empiris. Dalam situasi ekonomi sulit sekarang ini mana ada pekerja yang mau di PHK apalagi
              mengundurkan diridari pekerjaannya. Mereka terpaksa harus di PHK atau mengundurkan diri
              dari pekerjaan. Salah satu harapan yang bisa dimanfaatkan mereka adalah klaim JHT," kata
              Hery Susanto.

              Menurutnya  klaim  JHT  BPJS  Ketenagakerjaan  adalah  hak  peserta  yang  tertuang  dalam
              peraturan perundang-undangan terkait. UU SJSN, UU BPJS, PP No 44/2015 dan Permenaker No
              19 Tahun 2015. Direksi BPJS Ketenagakerjaan tidak dibenarkan menunda atau mempersulit
              pelayanan klaim JHT.

              "Semua  orang  peserta  BPJS  Ketenagakerjaan  baik  yang  menjadi  korban  PHK,  resign,  dan
              pensiun adalah sama perlakuannya di depan hukum untuk mendapatkan pelayanan klaim JHT
              BPJS. Sebagaimana diatur dalam regulasi terkait manfaat JHT," tegas Hery Susanto.

              Survei  yang  dilakukan  KORNAS  MP-BPJS  pada  4-10  Juli  2020  di  25  kantor  cabang  BPJS
              Ketenagakerjaan  se  Indonesia  dengan  wawancara  1000  peserta  klaim  JHT  BPJS
              Ketenagakerjaan  secara  daring  dan  luring  menyebutkan  mayoritas  58%  tidak  puas  dengan
              pelayanan klaim JHT BPJS Ketenagakerjaan. Pelayanan klaim JHT dinilai responden terlalu rumit
              dan berlarut-larut hingga lebih dari 5 hari setelah berkas klaim dinyatakan lengkap.




                                                           151
   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157