Page 192 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JULI 2020
P. 192

yang dianut pemerintah saat ini masih tetap sama yaitu konsep trickle down effect, yaitu tetesan
              kecil  dari  para  pengusaha  atau  investor  kepada  para  buruh  atau  pekerja.  Dalam  teori
              pembangunan model ini mirip dengan teori modernisasi dari Rostow yaitu melewati 5 tahapan
              dari masyarakat tradisional menuju konsumsi massa.

              Secara  umum  dapat  dilihat  bahwa  orientasi  pemerintah  adalah  orientasi  kapaitalistik.
              Pertumbuhan ekonomi dan PDB yang tinggi sebenarnya tidak menjamin kesejahteraan sosial.
              Salah satu buktinya adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi yang dilaporkan setiap tahun
              nyatanya  tidak  mampu  mengurangi  kemiskinan  dan  meningkatkan  kesejahteraan  sosial.
              Menurut Oxfam (2017) 1 % orang terkaya di Indonesia memiliki kekayaan setara dengan 49 %
              kekayaan  seluruh  orang  Indonesia.  Empat  orang  terkaya  di  Indonesia  kekayaannya  setara
              dengan 100.000 orang termiskin. Ini menunjukkan kapitalisme semakin kuat di negara ini. Spirit
              kapitalisme  ini  tentu  sangat  bertolak  belakang  dengan  semangat  marhein  bung  karno  dan
              konsep nawa cita pemerintah.
              Dilihat dari penamaan RUU ini bernama Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Sederhananya
              judul RUU ini menunjukkan bahwa didalamnya pasti berisikan sejumlah pasal yang tujuannya
              untuk  melahirkan  dan  menciptkan  lapangan  kerja  yang  baru  dan  luas.  Artinya  jumlah
              pengangguran  akan  ditekan  dan  berkurang.  Akan  tetapi,  kalau  ditinjau  dengan  pendekatan
              hukum beyond the law dan aspek socio-legal RUU ini sebenarnya justru akan akan mengancam
              hak pekerja (perbudakan buruh) dan akan merampas pekerjaan petani (misleading).

              Untuk klaster ketenagakerjaan ada beberapa aturan dalam Omnibus Law yang dianggap akan
              merugikan  para  pekerja.  Kerugian  pertama  adalah  hilangnya  upah  minimum  kota  dan
              kabupaten. Hal itu terdapat pada pasal 88C draft RUU dimana upah minimum kabupaten/kota
              dimungkinkan ditiadakan dan menjadikan upah minimum provinsi (UMP) sebagai satu-satunya
              acuan.

              Kerugian kedua adalah besaran pesangon PHK berkurang. Aturan pesangon yang ada dalam UU
              Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dianggap kurang implementatit karena banyak
              pengusaha yang tidak mampu membayar pesangon sesuai dengan besaran dalam UU tersebut.
              Oleh sebab itu, kata Menteri Tenaga Kerja peraturan ini perlu dirubah .

              Kerugian ketiga adalah hapus izin cuti khusus. Seperti kata Ketua Umum KASBI Nining Elitos
              (Tempo.co) perempuan akan semakin jauh mendapatkan hak kesehatan dan reproduksinya.
              Karena  aturan  izin  cuti  khusus  dalam  UU  13  tahun  2003  seperti  izin  keperluan  menikah,
              menikahkan,  mengkhitankan,  membaptiskan  anak,  istri  melahirkan,  hingga  ada  anggota
              keluarga meninggal dalam satu rumah dihapuskan dalam RUU Cipta Kerja.

              Kerugian  keempat  adalah  tidak  jelasnya  nasib  outsourching.  Hal  itu  ditandai  dengan
              penghapusan pasal 64 dan 65 UU ketenagakerjaan yang mengatur pekerja outsourching. Dan
              yang terakhir pekerja terancam bisa dikontrak seumur hidup. Lagi-lagi adalah penghapusan
              pasal 59 UU ketenagakerjaan yang mengatur tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).
              Selain kelima kerugian diatas yang dikhawatirkan menimpa para buruh atau pekerja, kerugian
              juga akan menimpa para petani atau kerja-kerja rakyat yang sudah ada. Para pengusaha atau
              investor  akan  menawarkan  lapangan  kerja  dengan  membangun  usaha  di  lahan-lahan  milik
              petani.  Sehingga  pekerjaan  tradisional  seperti  bersawah  dan  berkebun  nanti  akan  berubah
              menjadi pekerja di pabrik atau di perkebunan. Artinya, kedamaian dan kemerdekaan sebagai
              petani biasa akan terenggut menjadi pekerja dibawah naungan pemilik modal dan pemilik alat
              produksi.

              Kerugian buruh dan ancaman pekerjaan rakyat adalah dua hal dari berbagai macam masalah
              yang dikhawatirkan muncul dari RUU Omnibus Law. Masalah-masalah lain seperti kerusakan
              lingkungan, eksploitasi SDA, agraria dan tata ruang, pesisir kelautan, potensi korupsi, sektor
                                                           191
   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197