Page 193 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JULI 2020
P. 193

pangan, sektor kehutanan, hingga pelanggaran HAM adalah masalah-masalah lain yang belum
              dibahas dalam tulisan ini.

              Dari awal penyusunan RUU ini sebenarnya juga sudah ditemui sejumlah kejanggalan. Seperti
              misalnya tidak dilibatkannya partisipasi publik dalam proses penyusunan draft. Hal ini tentu tidak
              sesuai dengan prinsip demokrasi liberatif. Dan aturan partisipasi publik juga telah diatur dalam
              UU  Nomor  12 Tahun  2011  pasal  96.  Proses  legislasi  yang  tertutup  dan terkesan  sembunyi-
              sembunyi berpotensi membuka ruang transaksional dalam penyusunan undang-undang.
              RUU  ini  diduga  sebagai  bentuk  akomodir  pemerintah  terhadap  kepentingan  kelompok
              pengusaha  untuk  memperlancar  bisnis  mereka.  Hellman  dan  Kaufman  (2000)  menyebutnya
              dengan istilah state capture, yaitu kelompok tertentu (umumnya entitas bisnis) yang melakukan
              pembayaran  pribadi  yang  ilegal  dan  tidak  transparan  kepada  pejabat  publik  untuk
              mempengaruhi pembentukan undang-undang. Data juga menunjukkan 53 % anggota DPR (293
              orang  dari  560)  berlatar  belakang  pengusaha.  Artinya,  bangsa  ini  semakin  kokoh  berada
              ditangan  para  elit  kapatalis.  Istilah  ekonomi  pancasila,  ekonomi  kerakyatan,  berdikari  bung
              karno, konsep ekonomi bung Hatta, semakin menjauh dari harapan.

              Uraian diatas menyimpulkan bahwa RUU Omnibus Law adalah bentuk ketidakberpihakan negara
              kepada rakyat kecil, dan malah berpihak kepada kepentingan pemodal. Oleh sebab itu, kekuatan
              rakyat harus terus dikonsolidasikan untuk menggagalkan RUU ini menjadi UU. Karena problem
              ini tidak hanya milik satu dua pihak saja tapi adalah problem bangsa Indonesia. Jadi, semua
              elemen  pro-rakyat  perlu  menyusun  strategi  dan  membulatkan  tekad  untuk  menyelamatkan
              Indonesia dari kepentingan elit kapitalis..














































                                                           192
   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197   198