Page 312 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JULI 2020
P. 312

"UU ini adalah UU yang merugikan kaum buruh dan memberikan kemudahan, sangat mudah,
              ini UU karpet merah bagi kepentingan kapitalis atau invetasi asing ke Indonesia," kata Ketua
              GSBI Rudi Abedaman saat ketika menggelar aksi di depan Gedung DPR, Kamis (16/7).

              Rudi Abedaman mencontohkan, Omnibus Law RUU Cipta Kerja memberikan peluang besar bagi
              tenaga kerja asing masuk ke Indonesia. Bahkan, aturan itu memungkinkan TKA direkrut pada
              bidang kasar.

              Hal itu, kata dia, jelas merugikan buruh di Indonesia. Kesempatan kerja para buruh menjadi
              menipis  dengan  masuknya  TKA."Kalau  di  UU  lama,  itu  masih  ada pembatasan-pembatasan.
              Pekerja  asing  hanya  untuk  tenaga  ahli.  Kalau  sekarang  melalui  Omnibus  Law,  seluruh  jenis
              pekerjaan, itu bisa menggunakan TKA," ucap dia.

              "Nah, ini ancaman bagi rakyat Indonesia. Kami bukan menolak TKA, tetapi di tengah jutaan
              rakyat menganggur, di tengah lapangan kerja sulit, pekerjaan kasar itu bisa dikerjakan TKA,"
              ucap Rudi Abedaman.

              Berdasarkan pantauan, setidaknya terdapat ratusan orang dari GSBI dan FPR yang menggelar
              aksi di depan Gedung DPR pada hari ini. Selain GSBPI dan FPR, tampak hadir ribuan orang dari
              Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) hadir di depan Gedung DPR. Seperti GSBI dan
              FPR, massa KASBI hadir untuk menolak Omnibus Law RUU Cipta Kerja. Atas aksi gabungan dari
              para buruh, Jalan Gatot Subroto dari arah Jembatan Gerbang Pemuda menuju Slipi lumpuh.
              Polisi menutup total arus jalan tersebut karena massa membludak di lokasi.

              Menurut Rudi, para buruh tidak ingin pembahasan RUU Omnibus Law tersebut dilanjutkan dan
              disahkan menjadi Undang-undang. Pasalanya, ia menanggap, regulasi itu tidak berpihak kepada
              kaum  buruh.  Sehingga  memang  sudah  seharusnya  pembahasan  RUU  tersebut  tidak  perlu
              dilanjutkan lagi.

              "Jadi aksi hari ini adalah untuk menyampaikan tuntutan kita ke DPR dan pemerintah, untuk
              membatalkan proses pembahasan Omnibus Law RUU Ciptaker yang sedang digodok di DPR,"
              ungkapnya.

              Massa  yang  tergabung  dalam  Gabungan  Serikat  Buruh  Indonesia  (GSBI),  Front  Perjuangan
              Rakyat (FPR), dan Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) menggelar aksi menolak
              Omnibus  Law  secara  keseluruhan  di  depan  Gedung  DPR,  Jakarta,  Kamis  (16/7).  Massa
              membawa berbagai poster dalam aksi menolak Omnibus Law. Misalnya poster yang menuliskan
              tentang Omnibus Law lebih buruk daripada UU Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003. Poster
              lainnya berisikan tentang keinginan massa aksi mengesahkan UU Pekerja Rumah Tangga seraya
              meminta pemerintah dan DPR mencabut pembahasan Omnibus Law.

              Tidak hanya poster, massa aksi turut membawa spanduk berukuran sekitar 3X5 Meter. Spanduk
              tersebut dipasang massa aksi di jembatan penyeberangan dekat depan gerbang utama Gedung
              DPR RI. Dalam tulisannya di spanduk, massa menilai pemerintah bersama DPR tidak cakap
              mengurus coronavirus disease 2019 (COVID-19). Namun, ketidakberesan mengurus COVID-19
              justru dilengkapi dengan membahas Omnibus Law. "Alerta!!! Tak becus urus virus, yang dikebut
              malah Omnibus," tulis massa pada spanduk yang dibentangkan di atas jembatan dekat gerbang
              utama Gedung DPR, Jakarta, Kamis.

              Seakan tak cukup poster dan spanduk, massa aksi turut membawa maskot gurita pada aksi di
              depan Gedung DPR. Pada bagian kepala gurita tersebut massa menuliskan tuntutannya pada
              aksi yakni menolak Omnibus Law. (mg10/jpnn).




                                                           311
   307   308   309   310   311   312   313   314   315   316   317