Page 71 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JULI 2020
P. 71

Berikut  pasal  dan  pembahasan    RUU  Omnibus  Law    yang  menimbulkan  kontroversi:    1.
              Penggunaan  tenaga  outsource  atau  alih  daya    Berbeda  dengan  UU  Nomor  13  tahun  2003,
              tenaga outsource bisa digunakan di berbagai bidang termasuk proses produksi. Namun nasib
              pekerja outsource akan rawan ketidakpastian dan mungkin minim perlindungan.

              "Hubungan  kerja  antara  perusahaan  alih  daya  dengan  pekerja  buruh  yang  dipekerjakannya
              didasarkan pada perjanjian  kerja  waktu tertentu  atau perjanjian  kerja  waktu tidak  tertentu.
              Perlindungan  pekerja/buruh,  upah  dan  kesejahteraan,  syarat-syarat  kerja  serta  perselisihan
              yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan alih daya," tulis  RUU Cipta Kerja  pasal 66
              ayat satu dan dua.

              2. Aturan upah bagi pekerja  RUU Omnibus Law memuat pasal terkait aturan pengupahan yang
              banyak ditentang kalangan pekerja. Aturan ini dinilai sangat berpihak pada kalangan pengusaha
              dan memandang buruh tak lebih dari mesin produksi.

              "Upah ditetapkan berdasarkan satuan waktu dan/atau satuan hasil," tulis RUU Cipta Kerja pasal
              88 B.

              Selain itu,  RUU Omnibus Law  mengubah ketentuan upah minimum yang akan diterima buruh.
              Sebelumnya  dalam  Peraturan  Pemerintah  (PP)  Nomor  78  Tahun  2015,  penetapan  upah
              dilakukan provinsi serta kabupaten/kota.

              "Gubernur menetapkan upah minimum sebagai jaring pengaman. Upah minimum sebagaimana
              dimaksud pada ayat (1) merupakan upah minimum provinsi," tulis RUU Cipta Kerja pasal 88 C.

              3.  Sanksi  administratif  bagi  pengusaha    RUU  Omnibus  Law  hanya  menetapkan  sanksi
              administratif bagi pengusaha yang melakukan pelanggaran, misal dalam bidang perlindungan
              dan pengelolaan lingkungan hidup. Pengusaha tak lagi bisa dikenai sanksi pidana jika ketahuan
              melakukan kesalahan dan merugikan pihak lain.

              "Pemerintah pusat dapat menerapkan sanksi administratif terhadap penanggung jawab usaha
              dan/atau kegiatan dalam hal Pemerintah Pusat menganggap Pemerintah Daerah secara sengaja
              tidak menerapkan sanksi administratif terhadap pelanggaran yang serius di bidang perlindungan
              dan pengelolaan lingkungan hidup," tulis  RUU Cipta Kerja  pasal 77.

              B. RUU Omnibus Law  pro kontra  Omnibus Law kali pertama tercetus saat pelantikan Presiden
              Joko  Widodo  di  periode  kedua  pemerintahannya  2019-2024.  Jokowi  menyebut  UU  Cipta
              Lapangan Kerja dan UU Pemberdayaan UMKM sebagai omnibus law.

              "Masing-masing UU tersebut akan menjadi omnibus law, yaitu satu UU yang sekaligus merevisi
              beberapa UU, bahkan puluhan UU. Puluhan UU yang menghambat penciptaan lapangan kerja
              langsung direvisi sekaligus. Puluhan UU yang menghambat pengembangan UMKM juga akan
              langsung direvisi," kata Jokowi.

              Kepala Ekonomi Bank Dunia untuk Indonesia-timor Leste Frederico Gil Sander menilai  RUU
              Omnibus Law  bisa menjadi sarana pemulihan ekonomi. Terutama pada bidang yang mengalami
              dampak negatif pandemi virus corona.

              "Kunci ke ranah pemulihan dengan baik adalah regulasi, keterampilan, dan infrastruktur. Kita
              banyak bicara RUU Omnibus sebagai turbo charger. Ini jadi bensin utama untuk pemulihan,"
              kata Frederico.

              Namun kalangan buruh tetap menolak pengesahan  RUU Cipta Kerja  karena mengandung pasal
              yang merugikan pekerja. Yang paling utama adalah pasal terkait upah yang menghapus upah
              minimum kabupaten/kota.


                                                           70
   66   67   68   69   70   71   72   73   74   75   76