Page 198 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 04 NOVEMBER 2019
P. 198
Program JKK dan JKm Khusus untuk Program JKK dan JKm, Timboel Siregar
menjelaskan bahwa dengan dana kelolaan dan hasil investasi yang besar tersebut
tentunya manfaat kedua program ini harus terus ditingkatkan untuk memberikan
perlindungan lebih besar lagi kepada pekerja dan ahli warisnya.
"Mengacu pada Pasal 29 dan 36 PP No. 44 Tahun 2015, besarnya Iuran dan manfaat
program JKK dan JKm bagi Peserta dilakukan evaluasi secara berkala paling lama
setiap 2 (dua) tahun. Besaran iuran JKK dan JKm secara nominal otomatis meningkat
dengan naiknya upah minimum dan kenaikan upah tiap tahun, tetapi manfaat JKK
dan JKm sudah empat tahun ini tidak naik," jelasnya.
Bila mengacu pada Pasal 29 dan 36 tersebut seharusnya manfaat JKK dan JKm sudah
naik di tahun 2017 dan 2019 saat ini, tetapi hingga saat ini kenaikan manfaat tersebut
belum juga kunjung tiba. Dengan tidak naiknya manfaat JKK dan JKm maka pekerja
dan ahli waris pekerja tentunya dirugikan.
Timboel Siregar juga menyebutkan saat ini draft revisi PP No. 44 Tahun 2015 yang
mengatur kenaikan manfaat JKK dan JKm sudah di meja Presiden, dan tinggal
ditandatangani oleh Presiden. Proses revisi ini sudah memakan waktu empat tahun
dan proses penandatanganannya juga lama, mengingat sejak Bulan Mei 2019 lalu
Menteri Sekretaris Negara sudah meminta beberapa kementerian memberikan paraf
atas draft Revisi PP No. 44 ini.
"Saya menilai keterlambatan ini disebabkan tidak responsifnya para pembantu
Presiden mengimplementasikan Pasal 29 dan 36 PP No. 44 tahun 2015," tuturnya.
Proses lamanya revisi dan penandatanganan draft revisi PP No. 44 tahun 2015 ini,
kata Timboel, berdampak pada manfaat yang diterima pekerja dan ahli waris bagi
pekerja yang meninggal dunia.
Page 197 of 328.

