Page 12 - E-MODUL IPAS LUCYA TRISEPTIAWATI
P. 12
2. Pertempuran di Sumatera Barat
Tuanku Imam Bonjol
Perang Padri adalah perang saudara yang pernah terjadi di Minangkabau,
tepatnya di wilayah Kerajaan Pagaruyung yang kini termasuk Kabupaten Tanah
Datar, Sumatera Barat. Latar belakang sejarah Perang Padri berawal dari
masalah agama (Islam) dan adat, sebelum penjajah Belanda ikut campur
tangan.
Berlangsung dari tahun 1821 hingga 1837, perang Padri adalah konflik di
Sumatera Barat yang bermula dari perbedaan pandangan antara Kaum Paderi,
kelompok yang ingin menyebarkan Islam dan menghapus adat istiadat yang
bertentangan dengan Islam dengan Kaum Adat yang mempertahankan tradisi
adat istiadat mereka. Kaum Padri menguasai wilayah pedalaman, sedangkan
Kaum Adat mencari bantuan dari Inggris yang menguasai daerah pesisir.
Pada tahun 1819, Belanda merebut kembali Padang dari Inggris dan Kaum
Adat meminta bantuan Belanda untuk menghadapi Kaum Paderi. Pada tahun
1821, Belanda dan Kaum Adat menandatangani perjanjian, tetapi Belanda
melanggarnya. Pertempuran pun terjadi di berbagai tempat termasuk Sulit Air,
Solok, dan Kota Bonjol.
Pada 1833, Kota Bonjol jatuh ke tangan Belanda, tetapi kemudian berhasil
direbut kembali oleh Kaum Paderi. Sebagian Kaum Adat juga berbalik melawan
Belanda, sehingga Belanda meminta bantuan Sentot Alibasha Prawirodirjo,
bekas panglima Pangeran Diponegoro, yang akhirnya bersekutu dengan Kaum
Padri.
Pada 25 Oktober 1833, Belanda mengeluarkan maklumat Plakat Panjang
untuk mencoba mengakhiri perang, tetapi serangan Belanda terus berlanjut
hingga 1837, ketika Kota Bonjol jatuh ke tangan Belanda lagi. Tuanku Imam
Bonjol yang memimpin Kaum Padri, berhasil lolos dan berunding dengan
Belanda. Namun, Belanda melakukan tipu muslihat dan berhasil menangkap
Tuanku Imam Bonjol pada 25 Oktober 1833 yang kemudian dibuang ke
Manado.
8