Page 15 - E-MODUL IPAS LUCYA TRISEPTIAWATI
P. 15

5. Pertempuran di Aceh








                                                                             Cut Nyak Dhien





         Cut  Nyak  Dhien  merupakan  salah  satu  Pahlawan  Nasional  Indonesia  yang


         berjenis kelamin perempuan. Pahlawan Nasional asal Aceh ini merupakan istri

         dari Pahlawan Nasional, Teuku Umar.


         Cut  Nyak  Dhien  ditetapkan  sebagai  Pahlawan  Nasional  pada  1964.  Menurut

         Hafidz Muftisany dalam Inspirasi Pahlawan Indonesia (2023), Cut Nyak Dhien


         dijuluki sebagai "Ratu Perang Aceh."

         Julukan  tersebut  disematkan  kepada  Cut  Nyak  Dhien  karena  kegigihannya


         melawan  penjajah  Belanda  di  Aceh.  Cut  Nyak  Dhien  begitu  gigih  melawan


         penjajah karena suami pertamanya gugur di tangan Belanda.

         Kegigihannya membuahkan hasil, yang mana ia dan suami keduanya Teuku


         Umar  berhasil  merebut  kampung  halaman  Cut  Nyak  Dhien.  Sayangnya,

         setelah  Teuku  Umar  tewas  di  tangan  Belanda  dan  Cut  Nyak  Dhien  semakin


         renta, pasukannya terus melemah.


         Cut  Nyak  Dhien  bahkan  dikhianati  oleh  pengikutnya  sendiri,  yaitu  Pang  Laot

         sehingga ditangkap Belanda. Cut Nyak Dhien menghabiskan sisa hidupnya di


         pengasingan dan meninggal di Sumedang pada 1908.











         6. Pertempuran di Sulawesi                                                                            Sultan Hasanudin






                                                           Makassar merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan strategis di

                                                       wilayah Sulawesi. Hal itu membuat kongsi dagang VOC milik Belanda,

                                                       ingin  menguasai  wilayah  Sulawesi  Selatan,  terutama  yang  dikuasai

                                                       Kerajaan  Gowa-Tallo.  Beberapa  kali  VOC  datang  ke  Kerajaan  Gowa-


                                                       Tallo  untuk  berunding  dan  meminta  diberikan  hak  monopoli.  Namun,

                                                       sejak  era  Sultan  Malikussaid  (1639-1653)  hingga  Sultan  Hasanuddin

                                                       (1653-1669), VOC tidak pernah diizinkan melakukan aktivitas dagang di

                                                       wilayah  Makassar.  VOC  kemudian  melakukan  rapat  di  Batavia  pada  5


                                                       Oktober 1666 untuk membahas permasalahan tersebut. Rapat tersebut

                                                       menghasilkan keputusan untuk segera mungkin menaklukkan Kerajaan

                                                       Gowa-Tallo  dan  merebut  Makassar.  Hal  inilah  yang  menjadi  penyebab


                                                       Perang  Makassar  yang  berlangsung  selama  tiga  tahun,  yakni  antara

                                                       1666-1669.  Baca  juga:  Kerajaan  Gowa-Tallo:  Letak,  Kehidupan,

                                                       Peninggalan, dan Keruntuhan.


                                                          Pada 24 Oktober 1666, angkatan laut VOC berangkat ke Makassar di

                                                       bawah  pimpinan  Laksamana  Cornelis  Spelman.  VOC  tiba  di  depan

                                                       Benteng  Somba  Opu  pada  15  Desember  1666,  dengan  kekuatan  21

                                                       kapal  perang  serta  600  pasukan.  Begitu  sampai,  Spelman  mengutus


                                                       orangnya menemui Sultan Hasanuddin untuk menyerah dan membayar

                                                       ganti rugi kepada VOC. Akan tetapi, tuntutan tersebut ditolak keras oleh

                                                       Sultan Hasanuddin, karena VOC tidak memperlihatkan niat baiknya.







                                                                                                    11
   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20