Page 37 - Modul Pendidikan Guru Penggerak Bu Siti Dhomroh
P. 37
Menonton Video Diagram Identitas Gunung Es
https://www.youtube.com/watch?v=xwDwbzf0FbQ&feature=emb_imp_woyt
Lumpkin (2008), menyatakan bahwa guru dengan karakter baik mengajarkan murid
mereka tentang bagaimana keputusan dibuat melalui proses pertimbangan moral. Guru ini
membantu muridnya memahami nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka sendiri, kemudian
mereka mempercayainya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari siapa mereka, hingga
kemudian mereka terus menghidupinya. Guru dengan karakter yang baik melestarikan
nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat melalui murid-murid mereka.
Guru adalah tukang kebun, yang merawat tumbuhnya nilai-nilai kebaikan di dalam diri
murid-muridnya. Guru memiliki kesempatan untuk mengembangkan lingkungan di mana
murid berproses menumbuhkan nilai-nilai dirinya tersebut. Dengan demikian, guru patut
mengembangkan lingkungan yang sifatnya fisik (ekstrinsik) dan yang sifatnya psikis
(intrinsik).
Emosi adalah bagian utama dari lingkungan yang sifatnya psikis dan intrinsik yang dapat
dipengaruhi dan harus dipertimbangkan pengembangannya oleh guru. Dalam rangkaian
modul Pendidikan Guru Penggerak ini aspek emosi akan dibahas tersendiri dengan lebih
detail dalam modul Pembelajaran Sosial Emosional.
Menonton video pendek Eskalator dan Cara Kerja Otak
https://www.youtube.com/watch?v=K1q8q8TNLkI&feature=emb_imp_woyt
Lewat video ini Anda diajak mengeksplorasi dua sistem kerja otak “3-in-1” manusia secara
singkat untuk memelajari bagaimana manusia tergerak, bergerak, dan menggerakkan.
Guru adalah manusia yang senantiasa berusaha untuk menggerakkan manusia lainnya.
Oleh karena itu, guru harus lebih dulu sadar bagaimana dirinya tergerak, kemudian
memilih untuk bergerak dan akhirnya menggerakkan manusia yang lain.
B. PROFIL PELAJAR PANCASILA
Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak, pada modul sebelumnya kita sudah mempelajari
mengenai filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Pemikiran filosofis Ki Hadjar
Dewantara dinilai masih relevan untuk diterapkan pada dunia pendidikan saat ini. Ki
Hadjar Dewantara menegaskan bahwa tujuan dari pendidikan adalah menuntun segala
kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan
yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Ki
Hadjar Dewantara juga mengemukakan bahwa dalam proses menuntun, anak perlu
diberikan kebebasan dalam belajar serta berpikir, dituntun oleh para pendidik agar anak
tidak kehilangan arah serta membahayakan dirinya. Semangat agar anak bisa bebas belajar,
berpikir, agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan berdasarkan kesusilaan
manusia ini yang akhirnya menjadi tema besar kebijakan pendidikan Indonesia saat ini,
Merdeka Belajar.
Semangat Merdeka Belajar yang sedang dicanangkan ini juga memperkuat tujuan
pendidikan nasional yang telah dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, dimana Pendidikan
diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman dan bertakwa
https://www.youtube.com/watch?v=xwDwbzf0FbQ&feature=emb_imp_woyt
Lumpkin (2008), menyatakan bahwa guru dengan karakter baik mengajarkan murid
mereka tentang bagaimana keputusan dibuat melalui proses pertimbangan moral. Guru ini
membantu muridnya memahami nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka sendiri, kemudian
mereka mempercayainya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari siapa mereka, hingga
kemudian mereka terus menghidupinya. Guru dengan karakter yang baik melestarikan
nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat melalui murid-murid mereka.
Guru adalah tukang kebun, yang merawat tumbuhnya nilai-nilai kebaikan di dalam diri
murid-muridnya. Guru memiliki kesempatan untuk mengembangkan lingkungan di mana
murid berproses menumbuhkan nilai-nilai dirinya tersebut. Dengan demikian, guru patut
mengembangkan lingkungan yang sifatnya fisik (ekstrinsik) dan yang sifatnya psikis
(intrinsik).
Emosi adalah bagian utama dari lingkungan yang sifatnya psikis dan intrinsik yang dapat
dipengaruhi dan harus dipertimbangkan pengembangannya oleh guru. Dalam rangkaian
modul Pendidikan Guru Penggerak ini aspek emosi akan dibahas tersendiri dengan lebih
detail dalam modul Pembelajaran Sosial Emosional.
Menonton video pendek Eskalator dan Cara Kerja Otak
https://www.youtube.com/watch?v=K1q8q8TNLkI&feature=emb_imp_woyt
Lewat video ini Anda diajak mengeksplorasi dua sistem kerja otak “3-in-1” manusia secara
singkat untuk memelajari bagaimana manusia tergerak, bergerak, dan menggerakkan.
Guru adalah manusia yang senantiasa berusaha untuk menggerakkan manusia lainnya.
Oleh karena itu, guru harus lebih dulu sadar bagaimana dirinya tergerak, kemudian
memilih untuk bergerak dan akhirnya menggerakkan manusia yang lain.
B. PROFIL PELAJAR PANCASILA
Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak, pada modul sebelumnya kita sudah mempelajari
mengenai filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Pemikiran filosofis Ki Hadjar
Dewantara dinilai masih relevan untuk diterapkan pada dunia pendidikan saat ini. Ki
Hadjar Dewantara menegaskan bahwa tujuan dari pendidikan adalah menuntun segala
kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan
yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Ki
Hadjar Dewantara juga mengemukakan bahwa dalam proses menuntun, anak perlu
diberikan kebebasan dalam belajar serta berpikir, dituntun oleh para pendidik agar anak
tidak kehilangan arah serta membahayakan dirinya. Semangat agar anak bisa bebas belajar,
berpikir, agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan berdasarkan kesusilaan
manusia ini yang akhirnya menjadi tema besar kebijakan pendidikan Indonesia saat ini,
Merdeka Belajar.
Semangat Merdeka Belajar yang sedang dicanangkan ini juga memperkuat tujuan
pendidikan nasional yang telah dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, dimana Pendidikan
diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman dan bertakwa