Page 190 - Hadits-Jibril-Penjelasan-Hadits-Jibril-Memahami-Pondasi-Iman-Yang-Enam-Dr.-H.-Kholilurrohman-MA
P. 190
H a d i t s J i b r i l | 173
ِ
ِ
) ْ ٕ٘ٙ ْ:ةرقبلا(ِْ نيٍٓ دلاْفْهارْ كإْ َ لا
ََ
Yang secara zhahir bermakna bahwa dalam beragama tidak
ada paksaan. Ayat ini bukan dalam pengertian larangan
memeksa orang kafir untuk masuk Islam. Sebaliknya,
seorang yang kafir sedapat mungkin kita ajak ia untuk masuk
dalam agama Islam, karena hanya dengan demikian ia
menjadi selamat di akhirat kelak. Adapun ayat di atas
menurut salah satu penafsirannya sudah dihapus (mansukhah)
oleh ayat as-saif. Yaitu ayat yang berisi perintah untuk
memerangi orang-orang kafir. Sementara menurut
penafsiran lainnya bahwa ayat di atas hanya berlaku bagi
kafir dzimmyy saja.
Bahwa manusia terbagi kepada dua golongan,
sebagian ada yang mukmin dan sebagian lainnya ada yang
kafir, adalah dengan kehendak Allah. Artinya, bahwa Allah
telah berkehandak untuk memenuhi neraka dengan mereka
yang kafir, baik dari kalangan jin maupun manusia. Namun
demikian Allah tidak memerintahkan kepada kekufuran, dan
Allah tidak meridlai kekufuran tersebut. Karena itu dalam
agama Allah tidak tidak ada istilah pluralisme beragama
sebagai suatu ajaran dan ajakan. Demikian pula tidak ada
istilah sinkretisme; atau faham yang menggabungkan
“kebenaran” yang terdapat dalam beberapa agama atau
semua agama yang lalu menurutnya diformulasikan. Seorang
yang berkeyakinan bahwa ada agama yang hak selain agama
Islam maka orang ini bukan seorang muslim, dan dia tidak
mengetahui secara benar akan hakekat Islam.
Allah berfirman: