Page 227 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 227

dapat menghemat biaya bahan bakar, waktu (jam) kerja nakhoda  dan awal kapal
                            lainnya serta akan mempersingkat waktu pengiriman.

                            Dengan  diratifikasinya  Konvensi  Hukum  Laut  PBB,  pemerintah  Indonesia  terikat
                            dengan konvensi  itu. Dengan disahkannya  Lebar Laut, Zona Ekonomi Eksklusif,
                            Landas Kontinen, dan konsep tentang archipelagic State, Indonesia berhak melakukan
                            eksploitasi di wilayah yang masih menjadi wilayah kedaulatan Indonesia. Klaim negara
                            lain terhadap perairan laut yang berada dalam batas kedaulatan wilayah Indonesia
                            harus dianggap sebagai  ancaman yang mengganggu kedaulatan wilayah  Negara
                            Kesatuan Republik Indonesia,  misalnya Republik Rakyat Tiongkok yang memasukkan
                            wilayah perairan Natuna menjadi wilayah mereka. Walaupun pemerintah Tiongkok
                            telah  menyatakan  bahwa  mereka  tidak  berkeberatan  wilayah  Kepulauan  Natuna
                            menjadi  wilayah  kedaulatan  Indonesia,    dalam  peta  yang  baru  diperbaharui  oleh
                            pemerintah  Tiongkok masih  diberikan  nina  dash  line  (tanda  --)   yang  melintasi
                            wilayah Natuna. Permasalahan yang ada apabila dikaitkan dengan Konvensi Hukum
                            Laut PBB, wilayah Tiongkok yang paling dekat terletak lebih dari 400 mil laut dari
                            Kepulauan Natuna. Dengan demikian, klaim Tiongkok atas Kepulauan Natuna tidak
                            ada landasan hukumnya.

                            UNCLOS  mewajibkan  negara  yang  meratifikasinya  untuk menetapkan  hak  dan
                            kewajibannya, termasuk kedaulatan dan pengelolaannya lautnya.  Sebagai negara ke-
                            26 yang meratifikasi UNCLOS, Indonesia telah melakukan beberapa upaya diplomatik
                            agar  negara-negara  lain  ikut meratifikasi  hukum laut PBB  sekaligus  melengkapi
                            perangkat hukumnya dalam menopang hukum laut PBB itu. Hingga tahun 2014 telah
                            ada  166 negara  yang meratifikasi  UNCLOS,  termasuk negara-negara  berkembang
                            dan  negara  maju seperti  Rusia,  Inggris,  Kanada,  Uni  Eropa,  Cina,  Jepang,  India,
                            dan  Australia  telah  meratifikasi  hukum laut  PBB  itu.  Sayangnya,  Amerika  Serikat
                            hingga kini belum meratifikasi Hukum Laut Internasional itu. Beberapa negara telah
                            mendesaknya, termasuk Indonesia, agar negara yang menjadi polisi dunia ini dapat
                            berperan aktif  dalam penyelesaian sengketa dan  konflik kelautan internasional,
                            khususnya di perairan internasional yang sangat padat lalu lintas pelayarannya seperti
                            di Kepulauan Natuna.

                            Indonesia terletak di wilayah yang sangat strategis karena menjadi akses antara Asia,
                            Afrika, dan Eropa. Di samping itu, Indonesia  berbatasan dengan beberapa negara
                            besar seperti India, Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand, Philipina, Timor Leste,
                            Papua Nugini, dan Australia. Namun, di balik itu semua, dengan banyaknya pulau
                            dan luasnya pantai, yang berbatasan dengan negara lain, masih  ditambah dengan
                            perbatasan darat (Kalimantan dan Timor Leste), bagaikan dua sisi mata uang, yaitu
                            merupakan  peluang  emas  yang  harus  dimanfaatkan  secara  maksimal  sekaligus
                            membawa konsekuensi permasalahan yang sangat berat.

                            Perbatasan yang bersinggungan dengan wilayah bangsa asing  memerlukan strategi
                            tidak hanya  di  bidang militer, ekonomi,  budaya,  diplomasi,  dan  semua hal  yang
                            berkaitan  dengan  perlindungan  terhadap  bangsa  sendiri,  tetapi    juga  berpotensi


              210                                              Sejarah Wilayah Perbatasan  Kepulauan Natuna
   222   223   224   225   226   227   228   229   230   231   232