Page 228 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 228

menjadi ancaman serius yang dapat mengganggu keamanan dan kedamaian warga
                 negara dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai negara maritim,
                 setidaknya  bangsa  Indonesia  harus    mampu untuk mengatasi  permasalahan  di
                 perbatasan, terutama perbatasan laut.  Oleh  karena  itu, penguatan keamanan di
                 pulau terluar  merupakan suatu kebijakan yang mutlak harus ditegakkan dan harus
                 mampu melindungi kepentingan bangsa Indonesia. Sebagai garda terdepan NKRI,
                 pulau terluar (dan perbatasan darat tentunya) harus ditangani secara konseptual dan
                 komprehensif.

                 Perbatasan  antara  wilayah  RI  dan  India,  serta  Thailand hingga  saat ini  belum
                 menghasilkan  perjanjian  yang  komprehensif  tentang  Zona  Ekonomi  Eksklusif.
                 Perbatasan  antara  Kalimantan  dan  Malaysia  serta  Philipina  masih  menyisakan
                 permasalahan  yang memungkinkan  perompak melakukan  aksinya  dengan  leluasa
                 (termasuk perbatasan antara Papua dan Papua Nugini). Masalah human trafficking,
                 pencurian ikan,  penyelundupan (termasuk barang-barang ilegal  dan narkoba)
                 dengan mudah dapat dilakukan karena mengingat panjangnya pantai atau daratan
                 yang  hingga saat ini kurang mendapatkan penjagaan yang maksimal.

                 Untuk mengatasi  semua itu, diperlukan sistem penyelenggaraan pertahanan negara
                 yang  kuat.  Keamanan  di  perbatasan  bukan  hanya  menjadi  permasalahan  TNI-
                 Angkatan Laut semata. Seluruh komponen bangsa harus memiliki komitmen untuk
                 menjaga, memelihara, mempertahankan, dan memberdayakan semua potensi yang
                 ada untuk mengamankan wilayah perbatasan. Tidak boleh dilupakan bahwa pelanggar
                 wilayah perbatasan (baik laut maupun darat) menggunakan peralatan dan teknologi
                 canggih. Oleh karena itu, Tentara Nasional Indonesia secara perlahan, tetapi pasti
                 harus dimodernisasi peralatannya guna mengamankan wilayah perbatasan, terutama
                 wilayah  laut yang demikian luasnya.  Setidaknya,  revitalisasi  dan modernisasi
                 Angkatan Laut RI mulai dilakukan guna menjaga keutuhan NKRI.

                 Hingga kini gangguan di laut masih acapkali terjadi. Gangguan dapat berasal dari alam,
                 atau  dari manusia. Gangguan alam tentunya dapat diatasi dengan memanfaatkan
                 teknologi yang berkembang saat ini. Dengan memadukan kemajuan dan kecanggihan
                 teknologi, gangguan dari alam  dapat diprediksi dan diatasi. Badai laut, gelombang
                 tinggi, kabut yang pekat di laut, tsunami, serta gangguan alam lainnya dapat diatasi
                 dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi guna menghindari risiko  yang
                 tinggi.

                 Sementara  itu, gangguan  lain yang datang dari  manusia  dapat diatasi  dengan
                 menjaga  keberagaman  dan  toleransi  di  antara  sesama  warga  negara.  Hal  yang
                 harus diperhitungkan adalah adanya gangguan keamanaan dari bangsa asing yang
                 melakukan penyanderaan  dan  perampasan  terhadap  kapal-kapal  yang lalu lalang
                 di  perairan  wilayah  Indonesia,  terutama  di  Laut Natuna.  Beberapa  kali  nelayan
                 Indonesia  disandera  oleh  sekelompok masyarakat yang  menghalalkan  segala  cara
                 untuk mewujudkan keinginannya.



                 Mutiara di Ujung Utara                                                          211
   223   224   225   226   227   228   229   230   231   232   233