Page 387 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 387
Fuad Hassan, semasa
menjabat Menteri
Pendidikan dan
Kebudayaan, sedang
membuka Pameran
Lukisan Paris Jakarta
1950-1960
Jibouti (1976-1980). Kiprahnya sebagai duta besar dan pengalaman yang malang-melintang di dunia (Sumber: http://arsip.
galeri-nasional.or.id/
pendidikan mengantarkannya sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Luar documentations/
Negeri (1980-1985). Dua tahun setelah menduduki jabatan itu untuk kedua kalinya ia diangkat menjadi 11917/detail_file)
anggota MPR (1982-1987).
Pada tanggal 30 Juli 1985 Fuad Hasan dilantik Presiden Soeharto sebagai Mendikbud menggantikan
Nugroho Notosusanto yang meninggal dunia pada tanggal 3 Juni 1985. Dalam amanat saat pelantikan,
Soeharto mengingatkan bahwa dalam zaman pembangunan Mendikbud mempunyai tugas yang tidak
ringan karena pendidikan dan kebudayaan merupakan bagian yang teramat penting dari keseluruhan
pembangunan bangsa dalam arti yang seluas-luasnya. Kecerdasan, kemampuan, bahkan juga watak
bangsa Indonesia pada masa yang akan datang, lanjut Soeharto, ditentukan oleh pendidikan yang
sekarang diberikan kepada anak-anak bangsa dan pengembangan budaya pada masa kini. Oleh karena
itu salah satu pokok tugas negara adalah meningkatkan kecerdasan dan memperkuat watak bangsa
serta mengembangkan budaya, agar bangsa Indonesia mampu tumbuh menjadi bangsa yang maju dan
berbudaya, kuat, dan terhormat.
Setelah masa kerja Kabinet Karya Pembangunan IV berakhir, Fuad Hasan masih dipercaya memimpin
Depdikbud pada kabinet berikutnya (1988-1993). Dalam dua masa kepemimpinan itu terlihat jelas ada
perbedaan kebijakan pendidikan dan kebudayaan yang dijalankan Fuad Hasan.
Penampilan Fuad Hasan sebagai pendidik yang juga masuk dalam birokrasi pendidikan diabadikan oleh
murid terbaiknya, jurnalis Tempo Goenawan Mohamad, yang menjadi mahasiswanya di Fakultas Psikologi
UI. “Dosen kurus berpakaian putih-putih itu bernama Fuad Hasan. Kini dia Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan. Saya tak tahu bagaimana kelak dia akan dikenang sebagai seorang menteri dalam sejarah,
tapi dia akan tetap saya ingat sebagai seorang guru dari jenis yang punya jejak panjang,” demikian gores
ingatan Goenawan dalam Catatan Pinggir 3. 1
Pujian yang dilayangkan Goenawan bukan isapan jempol. Fuad Hasan, menurut Goenawan Mohamad,
bukan sekadar sosok yang pintar di depan kelas tetapi juga memiliki kelebihan lain. “Guru jenis ini
bisa menggugah minat. Ia bisa merangsang keasyikan menalar hingga kita pun jadi tekun menggunakan
kapasitas pemikiran kita untuk memecahkan soal,” tulis Goenawan dalam Catatan Pinggir 3 dalam sub
judul “Guru”.
Tulisan-tulisan Goenawan, terutama pada tokoh nasional hingga orang yang dikagumi, jarang berisi
pujian untuk sosok yang mampu mengubah paradigma hidupnya. Pada akhir tulisan mantan Pemred
Tempo ini menegaskan bahwa tidak semua guru bermental sama dengan Fuad Hasan. Bukan tanpa
alasan bila Goenawan kemudian memperkuat argumentasinya, “Ia menghidupkan generator dalam diri
kita untuk menjelajahi cakrawala pengetahuan dan menjelajahi cakrawala adalah proses yang tak habis-
habisnya. Karena itu jejaknya panjang.”
PEMIKIRAN UNTUK PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
“Naik di tengah jalan” menyebabkan Fuad Hasan tidak membuat perubahan besar pada tahun-tahun
pertama kepemimpinannya di Depdikbud; bahkan ia berjanji tidak akan menjadikan anak didik sebagai
kelinci percobaan sebagaimana pameo yang berkembang di tengah masyarakat “ganti pejabat, ganti
kebijakan”. Menyikapi heboh mengenai Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) yang dicanangkan
Nugroho Notosusanto, Fuad Hasan lebih memilih sikap meredam kehebohan. Tidak banyak
pernyataan yang dia keluarkan sehubungan dengan kebijakan tersebut. Sebagai gantinya, Fuad memilih
berkonsentrasi pada penuntasan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional yang akan menjadi dasar
Sistem Pendidikan Nasional. 2
374 MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018 MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018 375

