Page 384 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 384
Fuad Hasan
MASA KECIL DAN PENDIDIKAN
Fuad Hasan dilahirkan di Semarang, Jawa Tengah, tanggal 26 Juni 1929, anak kedua dari empat
bersaudara. Ayahnya, Ahmad Hasan, pemain mandolin yang piawai dan membuat Fuad Hasan mewarisi
darah seni kuat; bahkan sejak kecil ia bermimpi menjadi seorang konduktor. Tidak hanya sekedar
bermimpi, bahkan sejak usia sekolah dasar pun ia telah giat dalam dunia musik. Ia sering bolos sekolah
hanya karena ingin bermain atau berlatih musik. Alat musik yang paling disenanginya sewaktu kecil
adalah biola. Ia sering berlatih dan bermain musik di Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta.
Kegilaan bermain musik, yang menyebabkannya sering bolos sekolah dan kebiasaan tidak baik, ini
akhirnya diketahui orang tuanya. Namun ayahnya yang bersifat liberal tidak serta-merta bersikap keras
melarang Fuad bermain musik, tetapi mengarahkan dan mengingatkan bahwa pendidikan formal juga
perlu dan—yang paling penting—ayahnya ternyata merestui minat Fuad dengan mengatakan: kalau
memilih terjun ke dunia musik terjunlah secara total, jangan setengah-setengah.
Ia menyelesaikan sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas di Sala. Setelah tamat sekolah lanjutan atas,
berbekal restu sang ayah dan ditambah dengan keinginan besar untuk memperdalam keahlian dalam
bidang musik, tahun 1950 ia berangkat ke Jakarta. Di ibukota ia mendaftar untuk mengikuti tes sekolah
musik di Roma, Italia. Sayangnya, tekad yang sudah mengkristal tersebut mencair. Ia mengurungkan niat
Masa Jabatan menjadi musikus profesional. Ada informasi yang mengatakan bahwa Fuad mundur karena pengaruh
teman serta ada kesadaran dari diri sendiri, bahwa banyak orang bermain musik selama puluhan tahun
3 Juni 1985 – 17 Maret 1993 tetapi nyaris tidak mendapat apresiasi yang wajar dari khalayak.
Fuad kemudian menjatuhkan pilihan melanjutkan pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
(UI). Pendidikan sarjananya selesai pada tahun 1958. Otak yang cemerlang mengantarkannya melanjutkan
pendidikan ke S2. Ia mendalami filsafat pada Fakultas Psikologi dan Filsafat Toronto University, Kanada,
yang diselesaikannya pada tahun 1962. Adapun gelar Doktor diperoleh pada tahun 1967 di Fakultas
Psikologi UI dengan disertasi berjudul Neurosis sebagai Konflik Eksistensial.
KARIER
Sebelum menduduki kursi tertinggi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), Fuad Hasan
memiliki serentetan panjang pekerjaan, sebagian di antaranya berhubungan dengan dunia pendidikan.
Ia mengawali karier sebagai asisten pada Balai Psikoteknik Departemen P & K (1952-1956), kemudian
menjadi Asisten Dosen Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran UI (1956-1858). Ketika Presiden Soekarno
membentuk organisasi berbasis intelijen pada saat konfrontasi Indonesia-Malaysia dengan nama Komando
Operasi Tertinggi G-5 (KOTI G-5) ia ditunjuk sebagai salah seorang tenaga ahli pada lembaga tersebut
(1965). Setelah Soeharto naik ke tampuk pemerintahan Republik Indonesia (RI), ia masuk ke dalam
lingkungan istana dan diangkat menjadi Anggota Tim Ahli bidang Politik Staf Presiden (1966-1968). Di
ujung kariernya sebagai Anggota Tim Ahli bidang Politik Staf Presiden ia diangkat sebagai anggota Dewan
Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat (DPR/MPR).
Sebagai pendidik, Fuad Hasan tidak hanya aktif menjadi dosen di almamaternya, tetapi juga tercatat
sebagai pengajar Sekolah Komando Angkatan Darat (Seskoad), Sekolah Komando Angkatan Laut
(Seskoal), dan Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas). Di almamaternya ia tercatat pernah
menjadi Dekan Fakultas Psikologi UI dan pada waktu yang bersamaan juga menjadi Direktur Studi
Strategis Dewan Pertahanan Keamanan Nasional (1972-1976). Segera setelah mengakhiri tugasnya
di dua lembaga ini ia diangkat menjadi Dua Besar RI untuk Mesir merangkap Sudan, Somalia, dan
372 MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018 MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018 373

