Page 379 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 379

Buku pelajaran                                                                                              Atas dan Tengah
 Pendidikan Sejarah                                                                                          Menteri Pendidikan
 Perjuangan Bangsa                                                                                           dan Kebudayaan
 (PSPB) untuk siswa                                                                                          Prof. Dr. Nugroho
 SMP kelas 1                                                                                                 Notosusanto
 (Sumber: Direktorat                                                                                         membuka raker
 Sejarah)                                                                                                    khusus IKIP/Univ.
                                                                                                             FKIP dan Kopertis
                                                                                                             se-Indonesia
                                                                                                             yang dihadiri
                                                                                                             Dirjen Pendidikan
                                                                                                             Tinggi, Sukardji
                                                                                                             Ranuwirhadjo, para
                                                                                                             Rektor dan Rektor
                                                                                                             IKIP Jakarta Prof.
                                                                                                             Cony Semiawan
                                                                                                             di Hotel Wisata,
                                                                                                             Jakarta 1 April 1985
                                                                                                             (Sumber:
                                                                                                             Perpustakaan
                                                                                                             Nasional Republik
                                                                                                             Indonesia)

                                                                                                             Bawah
                                                                                                             Wakil
                                                                                                             Presiden Umar
                                                                                                             Wirahadikusumah
                                                                                                             didampingi Menteri
                                                                                                             Pendidikan dan
 Nugroho menganggap bahwa pendidikan membuat peserta didik menjadi orang yang aktif dan kreatif.             Kebudayaan,
                                                                                                             Prof. Nugroho
 Sekolah  hendaknya  menjadi  sebuah  lembaga  yang  mendidik  siswa  mampu  berbuat  untuk  dirinya,        Notosusanto sedang
 mampu mengembangkan apa yang diberikan kepadanya, baik pada masa dia sekolah maupun setelah                 membuka kegiatan
                                                                                                             pendidikan di Jakarta
 menamatkan  sekolah. Dengan  demikian  sekolah  tidak  boleh  membuat  siswa  hanya  menerima  dan          (Sumber: Arsip
 mencukupkan apa  yang  disajikan oleh para  guru semata. Nugroho  menganut pandangan “jangan                Nasional Republik
                                                                                                             Indonesia)
 memberi ikan kepada peserta didik, tetapi berilah dia pancing.” Memberi ikan hanya akan membuat
 siswa memakan apa yang diberikan kepadanya, mencukupkan apa yang dimilikinya saja. Sebaliknya bila
 memberi pancing siswa akan aktif dan memiliki kemampuan untuk berbuat; tidak hanya untuk waktu
 yang sesaat, tetapi juga untuk masa yang lama dalam hidupnya. 6

 Suatu kebijakan penting dilakukan Nugroho adalah mengubah Kurikulum 1975 menjadi Kurikulum
 1984. Melalui perubahan ini Nugroho memasukkan pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa
 (PSPB) sebagai mata pelajaran wajib mulai dari jenjang sekolah dasar sampai menengah atas. Di samping
 itu Nugroho juga menjadikan mata pelajarah Sejarah Nasional Indonesia dan Dunia (SNID) sebagai
 mata pelajaran wajib, terpisah dengan PSPB. Ide dasar dari mata pelajaran ini adalah agar peserta didik
 memperluas dan mengembangkan jiwa, semangat, dan nilai-nilai 1945 serta meningkatkan rasa cinta
 kepada tanah air. Dengan mengikuti pelajaran ini peserta didik mengenal sejarah bangsanya dan sejarah
 dunia dengan lebih baik di samping dapat mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah.
 7
 Gagasan tersebut didasarkan pada hasil kajiannya mengenai materi ajar di pendidikan dasar dan
 menengah yang terlalu mementingkan materi yang bersifat saintik sehingga kurang memberi tempat
 pada pendidikan karakter dan akhlak. Alasan lain yang juga sering disebut sebagai dasar pemberlakuan
 mata pelajaran yang berkaitan dengan sejarah adalah kenyataan yang ditemukan pada taruna akademi
 militer. Disebutkan bahwa suatu kali Jenderal M. Yusuf mendapati kenyataan bahwa taruna AKABRI
 memiliki pengetahuan  yang  dangkal mengenai sejarah  perjuangan  bangsanya  sendiri.  Berangkat
 dari kenyataan tersebut, M. Jusuf menyampaikan kepada Presiden Soeharto mengenai pentingnya
 penanaman nilai perjuangan bangsa ke dalam hati siswa dan tidak hanya sebagai pelajaran belaka.

 Sejak  saat  itu  PSPB  diberlakukan  sebagai  satu  mata  pelajaran  secara  spesifik  dan  diatur  langsung
 dalam TAP MPR No II/MPR/1982 tentang GBHN, “Dalam rangka meneruskan & mengembangkan
 jiwa, semangat & nilai-nilai 1945 kepada generasi muda, maka di sekolah-sekolah baik negeri maupun
 swasta, wajib diberikan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa.”

 6      S. Sumardi, dkk, Menteri-menteri Pendidikan dan Kebudayaan….., hlm. 77.
 7      Rustam Ambong, “Konstelasi Kurikulum Pendidikan di Indoensia” dalam Jurnal At-Turats, Vol. 9, No. 2, Desember 2015, hlm. 39.




 366  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  367
   374   375   376   377   378   379   380   381   382   383   384