Page 378 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 378

Buku pelajaran                                                                                                                                                                                                                        Atas dan Tengah
                          Pendidikan Sejarah                                                                                                                                                                                                                    Menteri Pendidikan
                          Perjuangan Bangsa                                                                                                                                                                                                                     dan Kebudayaan
                          (PSPB) untuk siswa                                                                                                                                                                                                                    Prof. Dr. Nugroho
                          SMP kelas 1                                                                                                                                                                                                                           Notosusanto
                          (Sumber: Direktorat                                                                                                                                                                                                                   membuka raker
                          Sejarah)                                                                                                                                                                                                                              khusus IKIP/Univ.
                                                                                                                                                                                                                                                                FKIP dan Kopertis
                                                                                                                                                                                                                                                                se-Indonesia
                                                                                                                                                                                                                                                                yang dihadiri
                                                                                                                                                                                                                                                                Dirjen Pendidikan
                                                                                                                                                                                                                                                                Tinggi, Sukardji
                                                                                                                                                                                                                                                                Ranuwirhadjo, para
                                                                                                                                                                                                                                                                Rektor dan Rektor
                                                                                                                                                                                                                                                                IKIP Jakarta Prof.
                                                                                                                                                                                                                                                                Cony Semiawan
                                                                                                                                                                                                                                                                di Hotel Wisata,
                                                                                                                                                                                                                                                                Jakarta 1 April 1985
                                                                                                                                                                                                                                                                (Sumber:
                                                                                                                                                                                                                                                                Perpustakaan
                                                                                                                                                                                                                                                                Nasional Republik
                                                                                                                                                                                                                                                                Indonesia)

                                                                                                                                                                                                                                                                Bawah
                                                                                                                                                                                                                                                                Wakil
                                                                                                                                                                                                                                                                Presiden Umar
                                                                                                                                                                                                                                                                Wirahadikusumah
                                                                                                                                                                                                                                                                didampingi Menteri
                                                                                                                                                                                                                                                                Pendidikan dan
                                           Nugroho menganggap bahwa pendidikan membuat peserta didik menjadi orang yang aktif dan kreatif.                                                                                                                      Kebudayaan,
                                                                                                                                                                                                                                                                Prof. Nugroho
                                           Sekolah  hendaknya  menjadi  sebuah  lembaga  yang  mendidik  siswa  mampu  berbuat  untuk  dirinya,                                                                                                                 Notosusanto sedang
                                           mampu mengembangkan apa yang diberikan kepadanya, baik pada masa dia sekolah maupun setelah                                                                                                                          membuka kegiatan
                                                                                                                                                                                                                                                                pendidikan di Jakarta
                                           menamatkan  sekolah. Dengan  demikian  sekolah  tidak  boleh  membuat  siswa  hanya  menerima  dan                                                                                                                   (Sumber: Arsip
                                           mencukupkan apa  yang  disajikan oleh para  guru semata. Nugroho  menganut pandangan “jangan                                                                                                                         Nasional Republik
                                                                                                                                                                                                                                                                Indonesia)
                                           memberi ikan kepada peserta didik, tetapi berilah dia pancing.” Memberi ikan hanya akan membuat
                                           siswa memakan apa yang diberikan kepadanya, mencukupkan apa yang dimilikinya saja. Sebaliknya bila
                                           memberi pancing siswa akan aktif dan memiliki kemampuan untuk berbuat; tidak hanya untuk waktu
                                           yang sesaat, tetapi juga untuk masa yang lama dalam hidupnya. 6

                                           Suatu kebijakan penting dilakukan Nugroho adalah mengubah Kurikulum 1975 menjadi Kurikulum
                                           1984. Melalui perubahan ini Nugroho memasukkan pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa
                                           (PSPB) sebagai mata pelajaran wajib mulai dari jenjang sekolah dasar sampai menengah atas. Di samping
                                           itu Nugroho juga menjadikan mata pelajarah Sejarah Nasional Indonesia dan Dunia (SNID) sebagai
                                           mata pelajaran wajib, terpisah dengan PSPB. Ide dasar dari mata pelajaran ini adalah agar peserta didik
                                           memperluas dan mengembangkan jiwa, semangat, dan nilai-nilai 1945 serta meningkatkan rasa cinta
                                           kepada tanah air. Dengan mengikuti pelajaran ini peserta didik mengenal sejarah bangsanya dan sejarah
                                           dunia dengan lebih baik di samping dapat mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah.
                                                                                                                       7
                                           Gagasan tersebut didasarkan pada hasil kajiannya mengenai materi ajar di pendidikan dasar dan
                                           menengah yang terlalu mementingkan materi yang bersifat saintik sehingga kurang memberi tempat
                                           pada pendidikan karakter dan akhlak. Alasan lain yang juga sering disebut sebagai dasar pemberlakuan
                                           mata pelajaran yang berkaitan dengan sejarah adalah kenyataan yang ditemukan pada taruna akademi
                                           militer. Disebutkan bahwa suatu kali Jenderal M. Yusuf mendapati kenyataan bahwa taruna AKABRI
                                           memiliki pengetahuan  yang  dangkal mengenai sejarah  perjuangan  bangsanya  sendiri.  Berangkat
                                           dari kenyataan tersebut, M. Jusuf menyampaikan kepada Presiden Soeharto mengenai pentingnya
                                           penanaman nilai perjuangan bangsa ke dalam hati siswa dan tidak hanya sebagai pelajaran belaka.

                                           Sejak  saat  itu  PSPB  diberlakukan  sebagai  satu  mata  pelajaran  secara  spesifik  dan  diatur  langsung
                                           dalam TAP MPR No II/MPR/1982 tentang GBHN, “Dalam rangka meneruskan & mengembangkan
                                           jiwa, semangat & nilai-nilai 1945 kepada generasi muda, maka di sekolah-sekolah baik negeri maupun
                                           swasta, wajib diberikan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa.”

                                           6      S. Sumardi, dkk, Menteri-menteri Pendidikan dan Kebudayaan….., hlm. 77.
                                           7      Rustam Ambong, “Konstelasi Kurikulum Pendidikan di Indoensia” dalam Jurnal At-Turats, Vol. 9, No. 2, Desember 2015, hlm. 39.




                             366  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018                                                                                                             MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  367
   373   374   375   376   377   378   379   380   381   382   383