Page 373 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 373
Nugroho Notosusanto
RIWAYAT HIDUP DAN PENDIDIKAN
Nugroho Notosusanto lahir pada tanggal 15 Juni 1931 di Rembang, Jawa Tengah, dari keluarga terdidik
1
dan terhormat. Ayahnya, Prof. Mr. R.P. Notosusanto, seorang ahli hukum Islam di Fakultas Hukum
(FH) Universitas Gadjah Mada (UGM), sekaligus salah satu pendiri UGM. Kakak Nugroho pensiunan
Patih Rembang, sedang kakak tertua ayah Nugroho pensiunan Bupati Rembang. Nugroho menikah
2
dengan Irma Savitri Ramelan (Lilik) yang dikenalnya sewaktu menjadi mahasiswa dan dikaruniai tiga
orang anak, yakni Indrya Smita, Inggita Suksma, dan Narottama.
Pendidikan dasar Nugroho dilalui di Europeesche Lagere School (ELS). Selepas ELS ia melanjutkan pendidikan
ke SMP dan menamatkannya pada tahun 1944. Jenjang sekolah lanjutan tingkat ia tempuh di Yogyakarta.
3
Ketika ia menempuh pendidikan di SMA rakyat Yogyakarta khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya
tengah berjuang menghadapi Belanda yang ingin kembali berkuasa di persada ini. Ia terpanggil ikut berjuang
dan bergabung dengan Tentara Pelajar (TP) Brigade 17 dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Yogyakarta.
Seusai tamat SMA pada tahun 1951 Nugroho dihadapkan pada dua pilihan: meneruskan karier militer
dengan mengikuti pendidikan perwira atau menuruti amanat ayahnya untuk menempuh karier
akademis. Akhirnya ia memilih mengikuti amanat ayahnya. Atas saran ayahnya ia kuliah pada Jurusan
Sejarah Fakultas Sastra (FS) Universitas Indonesia (UI). Gelar Doktorandus (Drs.) di bidang sejarah ia
Masa Jabatan raih tahun 1960. Pada saat itu juga ia diangkat sebagai dosen di almamaternya. Dua tahun kemudian ia
19 Maret 1983 – 3 Juni 1985 mendapat kesempatan menambah ilmu di bidang sejarah dan filsafat di University of London. Karier
tertinggi di bidang akademis dicapai ketika ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktor di UI dengan
disertasi The Peta Army During the Japanese Occupation in Indonesia, yang disusun berdasarkan wawancara
dan penelusuran dokumentasi sejarah yang ia peroleh dari dalam dan luar negeri. Disertasi itu kelak
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tentara Peta pada Zaman Pendudukan Jepang
di Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Gramedia pada tahun 1979. Pada tanggal 5 Januari 1980
Nugroho dikukuhkan sebagai Guru Besar FSUI dengan orasi ilmiah berjudul Sejarah Demi Masa Kini.
Dunia militer memang memiliki peran cukup besar dalam diri Nugroho. Seperti disebut di atas, pada
masa SMA Nugroho bergabung ke dalam kesatuan TP. Pada saat dia menjadi dosen di UI, tepatnya sejak
tahun 1964, ia juga dipercaya memegang posisi sebagai Kepala Pusat Sejarah Angkatan Darat. Pada
tahun 1967 ia mendapat pangkat kolonel tituler berdasarkan SK Panglima AD No. Kep. 1994/12/67.
Pada masa kepemimpinannya, Pusat Sejarah Angkatan Darat menerbitkan banyak buku yang berkenaan
dengan operasi militer Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dalam menumpas berbagai
pemberontakan atau gerakan separatis yang terjadi di berbagai daerah, seperti GOM II: Operasi
Penumpasan APRA, GOM V: Darah Tersimbah Di Jawa Barat - Gerakan Militer V, GOM VI: Penumpasan DI/
TII Di Jawa Tengah, GOM VII: Gerakan Operasi Militer VII/Penyelesaian Peristiwa DI/TII Di Aceh, dan Sejarah
Operasi-Operasi Gabungan Terhadap PRRI/Permesta; serta biografi beberapa tokoh pejuang serta tokoh
militer, seperti Komodor Udara Adi Sutjipto: Bapak Penerbang dan Panglima Besar Sudirman: Pemimpin,
Pejuang dan Pahlawan.
1 S. Sumardi, dkk, Menteri-menteri Pendidikan dan Kebudayaan Sejak Tahun 1966. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, 1984.
2 Jabatan patih dan bupati pada masa pra-kemerdekaan merupakan suatu kedudukan yang tinggi, mengingat sulit bagi kalangan pribumi
mendapatkan posisi tersebut.
3 Menurut Nugroho Notosusanto dia berkenalan dengan Daoed Joesoef, bahkan ia mengatakan bahwa Daoed Joesoef adalah mentornya
ketika SMA dulu. Entah kebetulan atau tidak, ketika diamanahi menjadi Menteri P & K, Daoed Joesoef juga menjadi “senior”nya alias
menjadi pendahulunya.
360 MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018 MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018 361

