Page 375 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 375
Buku Tentara Atas
Peta pada Jaman Prof. Dr. Nugroho
Pendudukan Notosusanto di
Jepang di Indonesia tengah-tengah
karya Nugroho mahasiswa UI, sesaat
Notosusanto, setelah pelantikannya
yang bermula dari sebagai Rektor UI,
disertasi The Peta Jakarta
Army During the
Japanese Occupation (Sumber:
in Indonesia Perpustakaan
Nasional Republik
(Sumber: Indonesia)
Notosusanto, 1979)
Tengah
Menteri Penerangan
Harmoko menerima
kunjungan Menteri
Pendidikan dan
Kebudayaan Prof.
Dr. Nugroho
Notosusanto
di Departemen
Penerangan pada 14
Oktober 1983
(Sumber:
Perpustakaan
Nasional Republik
Indonesia)
Latar belakang dosen mengantarkan Nugroho menjadi pengajar di berbagai sekolah di lingkungan ABRI. Bawah
Ia tercatat sebagai staf pengajar pada Sekolah Staf Komando Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Mendikbud Prof.
(SESKO-ABRI) pada bagian Darat, Laut, Udara, dan Kepolisian. Ia juga tercatat sebagai pengajar pada Dr. Nugroho
Notosusanto
Lembaga Pertahanan Nasional (LEMHANAS) dan Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (SESDILU). Di memberikan
pengarahan
samping berbagai pekerjaan tersebut, Nugroho juga menjadi Wakil Ketua Harian Pembina Pahlawan pada pembukaan
Pusat, anggota Dewan Pers, dan anggota Badan Pertimbangan Perintis Kemerdekaan. Rapat Koordinasi
Pendidikan
Menengah pada
Di lingkungan kampus UI Nugroho memegang beberapa jabatan penting. Ia pernah menjadi 30 Nopember 1983
Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FSUI, menjadi Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan (Sumber:
Perpustakaan
UI, dan puncak kariernya di lingkungan UI sebagai rektor. Ia dilantik menjadi orang nomor satu di Nasional Republik
kampus perjuangan itu berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 5/M/1982 untuk periode 1982- Indonesia)
1986. Ketika dilantik menjadi Rektor UI ia disambut dengan kecemasan dan caci maki para mahasiswa
UI. Mahasiswa menudingnya sebagai militer dan “orang pemerintah” yang disusupkan ke dalam kampus
untuk mematikan kebebasan mahasiswa.
Status sebagai dosen, Kepala Pusat Sejarah Angkatan Darat, dan keterlibatnnya dalam berbagai
lembaga pendidikan membuat Nugroho semakin akrab dengan dunia tulis-menulis, meskipun bakat
tulis-menulis sesungguhnya telah muncul sejak mengikuti pendidikan di sekolah dasar dan sekolah
lanjutan. Saat itu ia mempunyai kesenangan mengarang cerita, terutama napas perjuangan.
Bakat menulis Nugroho semakin tersalur ketika menjadi mahasiswa. Ia menjadi anggota redaksi
harian KAMI. Pun ia menjadi koresponden majalah Forum dan menjadi redaktur majalah Pelajar. Di
bidang keredaksian ia menjadi pemimpin majalah Gelora, pemimpin redaksi Kompas, anggota dewan
redaksi Mahasiswa, pengurus Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) tahun 1955-1958,
dan bersama Emil Salim pernah menjadi ketua juri hadiah sastra. Sebagai sastrawan ia dimasukkan
H.B. Jassin ke dalam Angkatan 66 dan oleh Ajip Rosidi dikategorikan sebagai sastrawan Angkatan Baru
(Periode 1950-an). 4
Di antara pengarang semasanya Nugroho dikenal sebagai penulis esai, padahal sebagian besar pengarang
waktu itu menulis cerita pendek (cerpen) dan sajak. Pada mulanya Nugroho memang menulis cerpen
dan sajak, yang sebagian besar dimuat di harian ibu kota. Oleh karena tidak pernah mendapat kepuasan
dalam menulis sajak, ia kemudian mengkhususkan diri sebagai pengarang prosa, terutama cerpen dan
esai. Karya prosanya dimuat di berbagai majalah dan surat kabar, seperti Gelora, Kompas, Mahasiswa,
4 Ajip Rosidi, Ichtisar Sejarah Sastera Indonesia.(Jakarta: Binacipta, 1969).
362 MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018 MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018 363

