Page 372 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 372

Nugroho Notosusanto





                                                                                                                                                                  RIWAYAT HIDUP DAN PENDIDIKAN

                                                                                                                                                                  Nugroho Notosusanto lahir pada tanggal 15 Juni 1931 di Rembang, Jawa Tengah, dari keluarga terdidik
                                                                                                                                                                                1
                                                                                                                                                                  dan terhormat.  Ayahnya, Prof. Mr. R.P. Notosusanto, seorang ahli hukum Islam di Fakultas Hukum
                                                                                                                                                                  (FH) Universitas Gadjah Mada (UGM), sekaligus salah satu pendiri UGM. Kakak Nugroho pensiunan
                                                                                                                                                                  Patih Rembang, sedang kakak tertua ayah Nugroho pensiunan Bupati Rembang.  Nugroho menikah
                                                                                                                                                                                                                                           2
                                                                                                                                                                  dengan Irma Savitri Ramelan (Lilik) yang dikenalnya sewaktu menjadi mahasiswa dan dikaruniai tiga
                                                                                                                                                                  orang anak, yakni Indrya Smita, Inggita Suksma, dan Narottama.

                                                                                                                                                                  Pendidikan dasar Nugroho dilalui di Europeesche Lagere School (ELS). Selepas ELS ia melanjutkan pendidikan
                                                                                                                                                                  ke SMP dan menamatkannya pada tahun 1944. Jenjang sekolah lanjutan tingkat ia tempuh di Yogyakarta.
                                                                                                                                                                                                                                                            3
                                                                                                                                                                  Ketika ia menempuh pendidikan di SMA rakyat Yogyakarta khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya
                                                                                                                                                                  tengah berjuang menghadapi Belanda yang ingin kembali berkuasa di persada ini. Ia terpanggil ikut berjuang
                                                                                                                                                                  dan bergabung dengan Tentara Pelajar (TP) Brigade 17 dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Yogyakarta.


                                                                                                                                                                  Seusai tamat SMA pada tahun 1951 Nugroho dihadapkan pada dua pilihan: meneruskan karier militer
                                                                                                                                                                  dengan mengikuti pendidikan perwira atau menuruti amanat ayahnya untuk menempuh karier
                                                                                                                                                                  akademis. Akhirnya ia memilih mengikuti amanat ayahnya. Atas saran ayahnya ia kuliah pada Jurusan
                                                                                                                                                                  Sejarah Fakultas Sastra (FS) Universitas Indonesia (UI). Gelar Doktorandus (Drs.) di bidang sejarah ia
                             Masa Jabatan                                                                                                                         raih tahun 1960. Pada saat itu juga ia diangkat sebagai dosen di almamaternya. Dua tahun kemudian ia
                             19 Maret 1983 – 3 Juni 1985                                                                                                          mendapat kesempatan menambah ilmu di bidang sejarah dan filsafat di University of London. Karier

                                                                                                                                                                  tertinggi di bidang akademis dicapai ketika ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktor di UI dengan
                                                                                                                                                                  disertasi The Peta Army During the Japanese Occupation in Indonesia, yang disusun berdasarkan wawancara
                                                                                                                                                                  dan penelusuran dokumentasi sejarah yang ia peroleh dari dalam dan luar negeri. Disertasi itu kelak
                                                                                                                                                                  diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tentara Peta pada Zaman Pendudukan Jepang
                                                                                                                                                                  di Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Gramedia pada tahun 1979. Pada tanggal 5 Januari 1980
                                                                                                                                                                  Nugroho dikukuhkan sebagai Guru Besar FSUI dengan orasi ilmiah berjudul Sejarah Demi Masa Kini.


                                                                                                                                                                  Dunia militer memang memiliki peran cukup besar dalam diri Nugroho. Seperti disebut di atas, pada
                                                                                                                                                                  masa SMA Nugroho bergabung ke dalam kesatuan TP. Pada saat dia menjadi dosen di UI, tepatnya sejak
                                                                                                                                                                  tahun 1964, ia juga dipercaya memegang posisi sebagai Kepala Pusat Sejarah Angkatan Darat. Pada
                                                                                                                                                                  tahun 1967 ia mendapat pangkat kolonel tituler berdasarkan SK Panglima AD No. Kep. 1994/12/67.
                                                                                                                                                                  Pada masa kepemimpinannya, Pusat Sejarah Angkatan Darat menerbitkan banyak buku yang berkenaan
                                                                                                                                                                  dengan operasi militer Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dalam menumpas berbagai
                                                                                                                                                                  pemberontakan  atau  gerakan  separatis  yang  terjadi di berbagai daerah, seperti  GOM  II: Operasi
                                                                                                                                                                  Penumpasan APRA, GOM V: Darah Tersimbah Di Jawa Barat - Gerakan Militer V, GOM VI: Penumpasan DI/
                                                                                                                                                                  TII Di Jawa Tengah, GOM VII: Gerakan Operasi Militer VII/Penyelesaian Peristiwa DI/TII Di Aceh, dan Sejarah
                                                                                                                                                                  Operasi-Operasi Gabungan Terhadap PRRI/Permesta; serta biografi beberapa tokoh pejuang serta tokoh
                                                                                                                                                                  militer, seperti Komodor Udara Adi Sutjipto: Bapak Penerbang dan Panglima Besar Sudirman: Pemimpin,
                                                                                                                                                                  Pejuang dan Pahlawan.


                                                                                                                                                                  1   S. Sumardi, dkk, Menteri-menteri Pendidikan dan Kebudayaan Sejak Tahun 1966. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
                                                                                                                                                                     Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, 1984.
                                                                                                                                                                  2   Jabatan patih dan bupati pada masa pra-kemerdekaan merupakan suatu kedudukan yang tinggi, mengingat sulit bagi kalangan pribumi
                                                                                                                                                                     mendapatkan posisi tersebut.

                                                                                                                                                                  3  Menurut Nugroho Notosusanto dia berkenalan dengan Daoed Joesoef, bahkan ia mengatakan bahwa Daoed Joesoef adalah mentornya
                                                                                                                                                                     ketika SMA dulu. Entah kebetulan atau tidak, ketika diamanahi menjadi Menteri P & K, Daoed Joesoef juga menjadi “senior”nya alias
                                                                                                                                                                     menjadi pendahulunya.




                             360  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018                                                                                                             MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  361
   367   368   369   370   371   372   373   374   375   376   377