Page 380 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 380

Menteri Pendidikan
                          dan Kebudayaan,
                          Prof. Dr. Nugroho
                          Notosusanto
                          sedang memberikan
                          pengarahan di depan
                          para guru
                          (Sumber: Arsip                                                                                                                          Di dunia pendidikan tinggi Nugroho mengganti Proyek Perintis dengan Seleksi Penerimaan Mahasiswa
                          Nasional Republik                                                                                                                       Baru (Sipenmaru). Melalui sistem ini penerimaan calon mahasiswa baru di semua perguruan tinggi
                          Indonesia)
                                                                                                                                                                  dilakukan secara bersamaan sehingga menghapus pengelompokan perguruan tinggi yang hebat dan tidak
                                                                                                                                                                  hebat. Bersamaan dengan itu juga diperkenalkan penerimaan mahasiswa baru tanpa tes, yang dikenal
                                                                                                                                                                  dengan nama Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Di samping itu ia membuka Universitas
                                                                                                                                                                  Terbuka (UT) sebagai perguruan tinggi negeri paling bungsu di Indonesia. Nugroho juga meninggalkan
                                                                                                                                                                  kesan sebagai seorang menteri yang suka mengganti penamaan perguruan tinggi, misalnya mengubah
                                                                                                                                                                  nama Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) menjadi Institut Seni Indonesia (ISI). Hal ini ditandai dengan
                                                                                                                                                                  perubahan nama ASRI Yogyakarta mejadi ISI Yogyakarta melalui Keputusan Presiden No. 39/1984 dan
                                                                                                                                                                  peresmian penamaan itu oleh Nugroho pada tanggal 23 Juli 1983.

                                                                                                                                                                  Dalam rangka membantu siswa yang kurang mampu Nugroho meluncurkan Program Orang Tua Asuh
                                                                                                                                                                  (OTA). Program  yang  diluncurkan  di  Yogyakarta  tersebut  didukung  Presiden  Soeharto. Dukungan
                                                                                                                                                                  presiden ternyata berdampak luas, sebab dalam waktu yang tidak berapa lama sudah tercatat banyak
                                                                                                                                                                  orang tua asuh di berbagai sekolah. Nugroho menyebutkan bahwa melalui Program OTA seseorang bisa
                                                                                                                                                                  memberikan uang sebesar Rp 5.000,00 kepada sebuah sekolah dan sekolah tersebut akan menentukan
                                           Keberadaan PSPB ternyata menimbulkan banyak tanggapan yang umumnya bernada negatif. Materi                             siswa mana yang akan menjadi “anak asuh” orang bersangkutan.  Ia sendiri mengangkat seorang anak
                                                                                                                                                                                                                           9
                                           PSPB dinilai tumpang tindih dengan materi mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP), Sejarah                     asuh bernama Yahda Tragedi, anak seorang penjual koran.
                                           Nasional, dan Ilmu Pengetahuan Sosial, yang semuanya membincangkan sejarah nasional Indonesia.
                                           Di samping itu protes yang sangat keras muncul karena buku ajar untuk mata pelajaran PSPB belum                        Khusus untuk program wajib belajar Nugroho mendorong Departemen P & K memberi kesempatan
                                           disiapkan. Para guru disuruh mengaplikasikan PSPB tanpa  buku ajar; atau, kalaupun sudah ada,                          kepada setiap anak bangsa memperoleh pendidikan, sekaligus mengarah pada kebutuhan pembangunan
                                           dipersiapkan dengan tergesa-gesa. Pedasnya kritik terhadap pelaksanan pengajaran seperti ini bisa                      di segala bidang dengan sistem pembinaan yang mantap dan terpadu.
                                           dilihat dari munculnya plesetan terhadap kepanjangan PSPB: Pedoman Supaya Pelajar Bingung.
                                                                                                                                                                  Kebijakan lain Nurgoho adalah mengganti kependekan nama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
                                           Latar belakang sebagai Guru Besar Ilmu Sejarah UI mendorong Nugroho juga menekankan pentingnya                         dari Departemen P dan K menjadi Depdikbud, Departemen Pertahanan Keamanan menjadi Dephankam,
                                           aspek pendidikan humaniora  dalam kurikulum. Dalam setiap kesempatan ia  melihat pendidikan                            dan sebagainya. Bunyi singkatan-singkatan tersebut dinilai banyak pihak terdengar buruk dan mengacu
                                           humaniora tidak mendapat apresiasi dan tidak begitu dikenal luas dalam masyarakat, padahal humaniora                   pada singkatan yang lazim digunakan di dunia militer Indonesia, yang oleh sebagian kalangan disebut
                                           merupakan bidang studi yang menafsirkan makna kehidupan manusia dan berusaha menambah martabat                         tidak berdasar kaidah penyingkatan yang benar, misalnya mengunakan huruf-huruf awal, tengah, atau
                                           penghidupan dan eksistensi manusia. Selain itu ilmu humaniora mampu memberi pengertian yang lebih                      belakang. Dengan mengacu pada kelaziman di dunia ABRI, pola penyingkatan yang dilakukan Nugroho
                                           manusiawi mengenai manusia, yang merupakan kebalikan dari aspek-aspek lain.                                            campur aduk: ada ambilan huruf awal, tengah, dan akhir. 10
                                           Nugroho  juga  memperhitungkan  kebijakan  Pemerintah  Orde  Baru  yang  ingin  menyatukan  seluruh                    Adanya  bau  militer  dari kebijakan  Nugroho  juga  dikaitkan  orang  dengan  keterlibatannya  dalam
                                           ormas  dan  partai politik  di bawah  bendera  Pancasila. Untuk  meningkatkan  pemahaman  Pancasila                    pembuatan skenario film Pengkhianatan G30S/PKI. Film tersebut dianggap sebagai versi resmi Orde
                                           tidak  cukup  melalui pendidikan  Pancasila, pendidikan  sejarah, PSPB, dan  penataran  P4. Yang  lebih                Baru tentang tragedi yang terjadi pada penghujung September 1965 dan menjadi tontonan wajib untuk
                                           efektif, menurut Nugroho, dilaksanakan dalam Pancasila in action. Melalui kebijakan ini penegakan tata                 murid-murid  sekolah di seluruh Indonesia  hingga  tahun  1997, yang  diputar sebagai acara  tahunan
                                           pergaulan dan tata krama dapat dilaksanakan melalui pembinaan dan keselarasan.                                         TVRI pada malam tanggal 30 September.

                                           Di samping PSPB dan pendidikan humaniora, Nugroho banyak berjasa dalam dunia pendidikan baik                           Meski demikian Nugroho diakui berjasa banyak pada Negara Republik Indonesia. Puncak pengakuan
                                           untuk tingat sekolah dasar, lanjutan, maupun perguruan tinggi. Gebrakan Nugroho di jenjang pendidikan                  atas sumbangan Nugroho  terhadap bangsa  Indonesia  adalah pemberian Bintang  Dharma, Bintang
                                           lanjutan atas adalah menghapus jurusan di SMA—yakni Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan                      Gerilya,  Bintang  Yudha  Dharma  Nararya,  Satyalencana  Penegak, Satyalencana  Penegak  Perang
                                           Sosial (IPS), dan Bahasa—dan menggantinya dengan lima jurusan, yaitu (1) Program A1, Program Ilmu                      Kemerdekaan I dan II, dan Bintang Matahaputra Adi Pradhana.
                                           Fisik, meliputi bidang studi matematika, fisika, kimia, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia; (2) Program              Pada saat sebagian kebijakannya tengah dihebohkan masyarakat ia meninggal dunia pada hari Senin
                                           A2, Ilmu Biologi, yang mencakup bidang biologi, matematika, kimia, bahasa Indonesia, dan bahasa                        tanggal 3 Juni 1985 pukul 12.30 di kediamannya karena pendarahan otak akibat tekanan darah tinggi.
                                           Inggris; (3) Progam A3, Ilmu-ilmu Sosial, mencakup bidang ekonomi termasuk akuntansi, PMP, sejarah                     Oleh karena itu kebijakan-kebijakannya tidak bisa dilaksanakan dengan utuh. Apalagi menteri yang
                                           nasional Indonesia dan dunia, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris; (4) Program A4, Pengetahuan                        menggantikannya juga memiliki kebijakan tersendiri pula.
                                           Budaya, meliputi PMP, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, sejarah nasional Indonesia dan dunia, dan
                                           pendidikan seni; serta (5) Program A5, yang menjuruskan siswa SMA menekuni ilmu-ilmu agama.
                                           Selain itu dikenal juga Program B, yang khusus untuk mengantarkan lulusan SMA masuk ke dunia kerja.
                                           Sayangnya Program B dicap sebagai program untuk siswa buangan. 8
                                                                                                                                                                  9      Antara, 25 Juli 1984.
                                           8      Darmaningtyas, Pendidikan yang Memiskinkan (Yogyakarta: Galang Press, 2004). hal. 75.                           10      Darmaningtyas, Pendidikan yang Memiskinkan, hal. 75.




                             368  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018                                                                                                             MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  369
   375   376   377   378   379   380   381   382   383   384   385