Page 385 - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Compile 18 Januari 2019
P. 385

Fuad Hasan





               MASA KECIL DAN PENDIDIKAN

               Fuad Hasan dilahirkan di Semarang, Jawa Tengah, tanggal 26 Juni 1929, anak kedua dari empat
               bersaudara. Ayahnya, Ahmad Hasan, pemain mandolin yang piawai dan membuat Fuad Hasan mewarisi
               darah seni kuat; bahkan sejak kecil ia bermimpi menjadi seorang konduktor. Tidak hanya sekedar
               bermimpi, bahkan sejak usia sekolah dasar pun ia telah giat dalam dunia musik. Ia sering bolos sekolah
               hanya karena ingin bermain atau berlatih musik. Alat musik yang paling disenanginya sewaktu kecil
               adalah biola. Ia sering berlatih dan bermain musik di Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta.
               Kegilaan bermain musik, yang menyebabkannya sering bolos sekolah dan kebiasaan tidak baik, ini
               akhirnya diketahui orang tuanya. Namun ayahnya yang bersifat liberal tidak serta-merta bersikap keras
               melarang Fuad bermain musik, tetapi mengarahkan dan mengingatkan bahwa pendidikan formal juga
               perlu dan—yang paling penting—ayahnya ternyata merestui minat Fuad dengan mengatakan: kalau
               memilih terjun ke dunia musik terjunlah secara total, jangan setengah-setengah.

               Ia menyelesaikan sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas di Sala. Setelah tamat sekolah lanjutan atas,
               berbekal restu sang ayah dan ditambah dengan keinginan besar untuk memperdalam keahlian dalam
               bidang musik, tahun 1950 ia berangkat ke Jakarta. Di ibukota ia mendaftar untuk mengikuti tes sekolah
               musik di Roma, Italia. Sayangnya, tekad yang sudah mengkristal tersebut mencair. Ia mengurungkan niat
 Masa Jabatan  menjadi musikus profesional. Ada informasi yang mengatakan bahwa Fuad mundur karena pengaruh
               teman serta ada kesadaran dari diri sendiri, bahwa banyak orang bermain musik selama puluhan tahun
 3 Juni 1985 – 17 Maret 1993  tetapi nyaris tidak mendapat apresiasi yang wajar dari khalayak.


               Fuad kemudian menjatuhkan pilihan melanjutkan pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
               (UI). Pendidikan sarjananya selesai pada tahun 1958. Otak yang cemerlang mengantarkannya melanjutkan
               pendidikan ke S2. Ia mendalami filsafat pada Fakultas Psikologi dan Filsafat Toronto University, Kanada,
               yang diselesaikannya pada tahun 1962. Adapun gelar Doktor diperoleh pada tahun 1967 di Fakultas
               Psikologi UI dengan disertasi berjudul Neurosis sebagai Konflik Eksistensial.



               KARIER

               Sebelum menduduki kursi tertinggi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), Fuad Hasan
               memiliki serentetan panjang pekerjaan, sebagian di antaranya berhubungan dengan dunia pendidikan.
               Ia mengawali karier sebagai asisten pada Balai Psikoteknik Departemen P & K (1952-1956), kemudian
               menjadi Asisten Dosen Jurusan Psikologi Fakultas Kedokteran UI (1956-1858). Ketika Presiden Soekarno
               membentuk organisasi berbasis intelijen pada saat konfrontasi Indonesia-Malaysia dengan nama Komando
               Operasi Tertinggi G-5 (KOTI G-5) ia ditunjuk sebagai salah seorang tenaga ahli pada lembaga tersebut
               (1965). Setelah Soeharto naik ke tampuk pemerintahan Republik Indonesia (RI), ia masuk ke dalam
               lingkungan istana dan diangkat menjadi Anggota Tim Ahli bidang Politik Staf Presiden (1966-1968). Di
               ujung kariernya sebagai Anggota Tim Ahli bidang Politik Staf Presiden ia diangkat sebagai anggota Dewan
               Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat (DPR/MPR).

               Sebagai pendidik, Fuad Hasan tidak hanya aktif menjadi dosen di almamaternya, tetapi juga tercatat
               sebagai pengajar Sekolah Komando  Angkatan Darat (Seskoad), Sekolah Komando  Angkatan Laut
               (Seskoal), dan Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas). Di almamaternya ia tercatat pernah
               menjadi Dekan Fakultas Psikologi UI dan pada waktu yang bersamaan juga menjadi Direktur Studi
               Strategis  Dewan  Pertahanan  Keamanan  Nasional  (1972-1976). Segera  setelah  mengakhiri tugasnya
               di dua lembaga ini ia diangkat menjadi Dua Besar RI untuk Mesir merangkap Sudan, Somalia, dan




 372  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 1945-2018  373
   380   381   382   383   384   385   386   387   388   389   390