Page 13 - BUKU PANDUAN TANWIR 2 NA
P. 13
Biro Pusat Statistik Indonesia (2000) menerangkan
bahwa guna melihat tingkat kesejahteraan rumah tangga suatu
wilayah ada beberapa indikator yang dapat dijadikan ukuruan,
antara lain adalah: (1) Tingkat pendapatan keluarga, (2)
Komposisi pengeluaran rumah tangga dengan
membandingkan pengeluaran untuk pangan dengan non-
pangan, (3) Tingkat pendidikan keluarga, (4) Tingkat kesehatan
keluarga, (5) Kondisi perumahan serta fasilitas yang dimiliki
dalam rumah tangga.
Faktanya hingga saat ini, bagaimanapun juga masih
banyak menyaksikan kondisi bangsa dan terutama rakyat
Indonesia yang belum mendapatkan pemerataan
kesejahteraan. Terlebih lagi anak dan perempuan masih berada
dalam himpitan persoalan, seperti tingginya angka kematian Ibu
dan Bayi, pemenuhan gizi yang belum sesuai dengan standar
kesehatan, maraknya aksi kekerasan terhadap anak dan
perempuan (baik kekerasan system, kekerasan verbal, kekerasan
fisik secara umum, hingga kekerasan dalam rumah tangga),
buruh migran dan trafficking, serta kemiskinan absolut kaum
perempuan, meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS dimana
perempuan lebih merupakan dan beberapa persoalan
perempuan dan anak yang masih menyisakan jawaban dan
solusi yang cepat.
Pemerintah sebenarnya telah meratifikasi program
internasional yang diinisiasi oleh Persyarikatan Bangsa-Bangsa,
Suistanablelity Development Goals (SDGs) atau Agenda
pembangunan berkelanjutan yang baru dibuat untuk menjawab
tuntutan kepemimpinan dunia dalam mengatasi kemiskinan,
kesenjangan, dan perubahan iklim dalam bentuk aksi nyata.
[3]
Konsep Tujuan Pembangunan Berkelanjutan lahir pada
Konferensi Pembangunan Berkelanjutan PBB, Rio+20, pada
Panduan Tanwir II Nasyiatul Aisyiyah 9

