Page 5 - plif.pdf.iisnabilaa
P. 5
Penekanan teknologi sebagai suatu pokok secara global, sebetulnya juga mengandung makna
historis. Dimana dengan terjadinya revolusi industri yang meningkatkan keterkaitan antar bangsa
di dunia, berbagai teknologi ditemukan dan menjadi dasar bagi perkembangannya saat ini,
seperti komputer dan internet. Pada saat itu pula, berkembang secara bersama-sama
pergeseranpergeseran teknologi secara kebudayaan. Dalam arti bahwa proses transferalisasi
teknologi itu bukanlah tanpa makna dan ide-ide tertentu, seperti dikatakan oleh Arnold J.
Toynbee, dalam
Mangunwijaya: “Transfer teknologi akan berarti juga transfer sebuah totalitas kebudayaan satu
ideologi pihak yang melahirkan teknologi itu. Sebab kalau tidak maka sinar kebudayaan yang
lepas bagaikan elektron yang terlepas atau penyakit menular yang tersesat”. Justru karena
teknologi adalah sebuah transferalisasi yang penuh makna dan ide-ide tertentu, maka ia bukanlah
sekedar barang atau benda atau alat-alat belaka. Maka dari itu, pemahaman terhadap teknologi,
tidak bisa tidak harus membutuhkan suatu kajian tentang makna-makna, ide-ide, dan
simbolsimbol yang relevan. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa teknologi sebenarnya adalah
sebuah kebudayaan. Menurut Clifford Geertz, “kebudayaan adalah suatu sistem simbol yang
dengannya manusia dapat memberi makna bagi kehidupannya“. Ini berarti bahwa teknologi
adalah wujud nyata dari simbol-simbol kebudayaan manusia. Dimana dengan simbol teknologi
ini maka manusia dapat mengembangkan kehidupannya di dalam dunia.
Dari pemahaman seperti itu, maka pendekatan terhadap teknologi juga dapat didekati secara
kebudayaan. Tetapi dalam pendekatan secara kebudayaan perlu diwaspadai. Pada umumnya
orang akan berpendapat bahwa jika berbicara tentang kebudayaan, maka berarti ada kebudayaan
‘asli’ dan kebudayaan ‘asing’. Pemahaman seperti ini tidaklah tepat, sebab yang menghidupi
suatu tradisi atau kebudayaan adalah manusia, dan manusia yang menghidupi suatu kebudayaan
adalah manusia yang mempunyai hakekat sebagai makhluk sosial dan selalu berhubungan
dengan orang-orang lain dalam suatu realitas dan kebudayaan yang berbeda dengannya. Dalam
hakekat seperti ini maka mustahil untuk berbicara tentang adanya budaya ‘asli’ dan budaya
‘asing’. Yang tepat adalah membicarakan bahwa yang terjadi dalam percakapan kebudayaan
adalah “perjumpaan” kebudayaan. Dimana dalam perjumpaan itu, baik budaya sendiri (bukan
yang asli) atau budaya orang lain (bukan yang asing) sama-sama aktif dan proaktif dalam rangka
saling membentuk dan saling mempengaruhi. Dalam perjumpaan itu tidak akan ada yang hilang
atau musnah, malahan dibaharui secara baru. Dengan pemahaman seperti ini, pendekatan
terhadap teknologi di Indonesia dapat dikerjakan dengan beberapa pendekatan sebagai berikut: