Page 503 - Gabungan
P. 503

lepaskan saja, serahkan ke panti asuhan," kata si botak dengan tulus.


                Lani terdiam, tak berkata apa-apa. Ia mencium pipi bayinya yang


            sedang tertidur. Meski anak ini adalah buah dosa Zhou Zijian, ia tetap


            darah  dagingnya!  Tapi  jika  dibawa  ke  Hong  Kong,  bagaimana


            mungkin ia membesarkan dua anak sendirian?


                "Tolong bantu aku mengaturnya!" Lani memohon pada pasangan


            si botak.


                "Panti asuhan 'Santa Carlos' sangat baik. Anak pasti akan tumbuh


            dengan baik di sana," kata istri si botak.


                "Baik... bawa ke sana saja." Lani menyerahkan segalanya pada


            takdir. Ia dan istri si botak pergi dengan becak. Agar tak mencolok,


            mereka turun sebelum sampai panti asuhan dan berjalan kaki.


                Panti asuhan "Santa Carlos" terletak di pinggiran kota, sepi dari

            keramaian. Lani mencium bayinya sekali lagi, mengingat tanda merah


            di belakang telinga kanannya. Ia mengikatkan patung Buddha giok di


            kaki  bayi—peninggalan  ibunya,  Sumiyati,  yang  didapat  dari  kakek


            Tionghoanya. Kini, ia mewariskannya pada putrinya.


                Lani meletakkan bayinya di dalam kotak kardus yang dibalut kain


            tebal, lalu menyimpannya di pagar besi depan panti asuhan, ditutupi


            terpal. Kebetulan seorang pengendara sepeda melintas. Lani dan istri


            si botak berjongkok menyembunyikan kotak itu.


                Dengan berat hati, Lani membuka kotak sekali lagi, memandangi

                                                           503
   498   499   500   501   502   503   504   505   506   507   508