Page 372 - 100 Cerita Rakyat Nusantara
P. 372

Seminggu telah berlalu. La Dana
            mendatangi rumah temannya. Dia
            bertanya apakah kerbau mereka
            sudah bisa disembelih. Temannya
            bilang, kerbaunya masih terlalu kurus.

               “Tapi aku sudah ingin memakannya
            sekarang,” La Dana terus menggerutu.
               ”Begini, aku potong saja bagianku,

            yaitu kaki belakangnya. Setelah itu kau bisa terus
                        memelihara kerbau itu sampai gemuk. Adil, bukan?”
                            usul La Dana sambil menyeringai.
                                  Temannya menggeleng kuat-kuat.
                                    ”Kerbau itu bisa mati! Begini saja, kita

                                 tunggu saja sampai kerbau ini gemuk. Nanti
                                  kau akan kuberi tambahan kaki depannya.”
                                      La Dana pun akhirnya setuju.

                                      Seminggu kemudian, lagi-lagi La Dana
                                  menengok kerbaunya. Dia mulai merengek
                                 lagi agar kerbau itu disembelih.
                                   “Jika kau tak mau, berikan saja
                              jatahku. Aku potong saja kaki belakang dan

                            kaki depannya, lalu kau bisa terus
                      memeliharanya,” pintanya lagi.
               Temannya pun mulai kesal.

               ”Kau ini main-main, ya? Bagaimana
            kerbau ini bisa tetap hidup jika kau
            potong kaki-kakinya?” teriaknya.
               La Dana hanya mengangkat bahunya,
            ”Pokoknya aku ingin mengambil jatahku

            hari ini,” jawabnya tegas.
                                                                                       369
   367   368   369   370   371   372   373   374   375   376   377