Page 474 - 100 Cerita Rakyat Nusantara
P. 474

”Hei, rupanya kau! Mau apa kau di sini?!” bentak Pangeran
           Cunihin pada Ki Pande. Putri Arum terkejut, sepertinya
           Pangeran Cunihin dan Ki Pande telah saling mengenal.

               Ki Pande menyingkir. Pangeran Cunihin tak memedulikannya.
           Dia sibuk memamerkan batu keramat berlubang itu pada Putri
           Arum.
               ”Ah, lubang itu terlalu kecil untuk dilewati. Coba, bisakah
           kau melewatinya?” pancing Putri Arum.

               Pangeran Cunihin pun tersinggung. Dia melangkah memasuki
                                                   lubang di batu itu untuk
                                                         membuktikan bahwa

                                                            lubang itu cukup besar.
                                                               Namun...
                                                                     ”Aduh, tolong!
                                                                    Apa yang terjadi
                                                                     padaku?”

                                                                      teriaknya.
                                                                           Bersamaan
                                                                        dengan

                                                                         itu, tubuh
                                                                         Pangeran
                                                                         Cunihin
                                                                         mendadak
                                                                         lemas. Dia

                                                                         berubah
                                                                         menjadi
                                                                        seorang

                                                                        kakek tua
                                                                       yang tanpa
                                                                     daya.

                                                                                       471
   469   470   471   472   473   474   475   476   477   478   479