Page 3 - Microsoft Word - 5. Mulin Nu╎man Revisi.docx
P. 3
Jurnal Derivat Volume 4 No. 2 Desember 2017 (ISSN: 2407 - 3792)
Halaman 31 – 42
Proses pemecahan masalah matematik Berdasarkan kutipan bahan ajar di atas,
merupakan salah satu kemampuan dasar materi disajikan secara langsung tanpa
matematik yang harus dikuasai siswa sekolah mengajak siswa untuk menemukan kembali
menengah. Pentingnya pemilikan kemampuan konsep yang dipelajarinya. Dengan
tersebut tercermin dari pernyataan Branca memberikan konsep secara langsung pada
(dalam Hendriana & Soemarmo, 2014: 23) siswa, pengetahuan yang didapat siswa menjadi
bahwa pemecahan masalah matematik kurang bermakna karena tidak ada proses
merupakan salah satu tujuan penting dalam asimilasi konsep baru dengan konsep yang telah
pembelajaran matematika bahkan proses didapatkan siswa (Komalasari, 2010: 21).
pemecahan masalah matematik merupakan Keraf dalam Fadjar Shadiq (2003:4)
jantungnya matematika. Sejalan dengan mengemukakan bahwa penalaran merupakan
pendapat Branca, Cooney (dalam Hendriana & proses berpikir yang berusaha menghubungkan
Soemarmo, 2014: 23) mengemukakan bahwa fakta-fakta yang telah diketahui siswa menuju
pemilikan kemampuan pemecahan masalah suatu kesimpulan. Pembelajaran yang
membantu siswa berpikir analitik dalam menyajikan fakta-fakta dalam kehidupan sehari-
mengambil keputusan dalam kehidupan sehari- hari siswa memungkinkan siswa dapat
hari dan membantu meningkatkan kemampuan menghubungkan fakta-fakta tersebut sehingga
berpikir kritis dalam menghadapi situasi baru.
diharapkan kemampuan penalaran siswa akan
Bahan ajar memiliki peran penting dalam meningkat. Salah satu pembelajaran yang
kegiatan pembelajaran, Greene dan Petty dalam menghubungkan konsep yang akan dipelajari
Komalasari (2010:43) menyebutkan di siswa dengan kehidupan sehari-harinya adalah
antaranya: pembelajaran kontekstual (Komalasari, 2010:6).
1. Menyajikan pokok masalah yang kaya, Pembelajaran kontekstual dapat
mudah dibaca dan bervariasi sesuai dengan menunjukkan kepada siswa keterkaitan antara
kebutuhan siswa matematika dengan dunia nyata, serta kegunaan
2. Menyediakan sumber belajar yang matematika bagi kehidupan manusia dan
sistematis mengenai keterampilan memberi pengertian kepada siswa bahwa
ekspresional dan melingkupi pokok matematika merupakan suatu ilmu yang tumbuh
permasalahan komunikasi. dan berkembang dari kehidupan manusia
3. Menyajikan fiksasi awal yang perlu sebagai (Wardhani, 2002:5-8).
penunjang bagi latihan dan tugas. Komalasari mengidentifikasi
4. Menyajikan bahan evaluasi yang sesuai dan karakteristik-karakteristik pembelajaran
tepat guna.
kontekstual (2010:13-15) sebagai berikut:
Bahan ajar yang beredar di pasaran 1) Keterkaitan (Relating)
berorientasi pada bahan pelajaran yang formal 2) Pengalaman langsung (Experiencing)
dan diambil dari disiplin ilmu pendukungnya, 3) Aplikasi (Applying)
namun kurang memperhatikan bahan pelajaran 4) Kerja sama (Cooperating)
yang diambil dari lingkungan tempat tinggal 5) Pengaturan Diri (Self-regulating)
siswa sehingga hubungan konsep yang 6) Penilaian Autentik (Authentic Assessment)
dipelajari oleh siswa melalui bahan ajar tersebut
kurang berhubungan dengan kehidupan sehari- Integrasi-interkoneksi merupakan upaya
hari siswa (Komalasari, 2010:43). untuk mempertemukan antara ilmu agama
(Islam) dengan ilmu-ilmu umum yang meliputi
sosial humaniora serta sains dan teknologi yang
termasuk di dalamnya adalah matematika (Tim
Penyusun POKJA akademik UIN Sunan
Kalijaga dalam Mussafi, 2014:1). Dalam
implementasinya, integrasi-interkoneksi
berusaha menghubungkan ilmu-ilmu agama
dengan ilmu sosial humaniora, ilmu-ilmu
agama dengan sains dan teknologi, maupun
Gambar 1. Kutipan Bahan Ajar
33

