Page 2 - Ridwan Sang Pahlawan Cerpen
P. 2
Pemuda bersurai lembut nan gelap itu memberikan seluruh atensinya pada papan putih yang kini
telah penuh dengan tulisan bertinta hitam. Gulir manik cokelatnya mengikuti arah tangan sang guru
yang tengah menyampaikan materi. Menggenggam pena dengan tangan manis, ditempelkannya
pena pada ranum merah muda. Sembari sesekali mengangguk paham, meski kadang lupa untuk
mengedipkan mata.
“Contoh sikap kepahlawanan...” kedua belah bibirnya mengeja pelan.
Si tampan ber-name tag ‘Ridwan Aarav’ yang telah menginjak wasta kedua di Sekolah Menengah
Pertama, masih berperang dalam pemikirannya sendiri. Rasa lapar Ridwan sudah berada pada
puncak memberontak, namun mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan masih
akan berakhir dua menit lagi. ‘Fokus ayo fokus!’ yakin Ridwan. Bukannya fokus, pandang Ridwan kini
tertuju pada permainan sepak bola di lapangan sekolah. Yang kebetulan pula ia duduk di pojok kelas
dekat jendela, dari tempatnya kini Ridwan memandang minat pada bola yang tengah digiring
kesana-kemari oleh kedua tim.
“Assalamu’alaikum...” Lamunan Ridwan pecah kala seorang siswa dari kelas lain masuk dan berdiri
di depan murid kelasnya.
Riuh pekikan beberapa siswi menyambut ketua OSIS, Gilang si Bintang Sekolah. Ridwan terkekeh
pelan menanggapi hal tersebut, namun ada juga yang bersorak tidak suka.
“Baik, kelas VIII A sudah memiliki tim yang akan mewakili kelas untuk mengikuti event sepak bola
besok ya? Dipersilahkan sebelum pulang nanti, bagi nama siswa yang dipilih oleh wali kelas untuk
berkumpul sebentar di depan ruang TU. Pesertanya yaitu...” Gilang menyebutkan sebelas nama
siswa terpilih, namun Ridwan tidak masuk dalam tim.
Kepalanya menunduk redup, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin belum saatnya
untuk berpartisipasi. Hingga kepergian ketua OSIS, Ridwan masih pada raut kecewa tak tertahan.
Beberapa kali menghembuskan nafas begitu kasar, decakan kecil pun keluar dari ranumnya.
“Wan, kenapa?” Tanya Jonathan, teman sebangku Ridwan.
“Laper nih...”
“Bokis!!” Jonathan memukul pelan bahu Ridwan, yang dipukul hanya tertawa hambar.
Teman karibnya merasa khawatir dan ingin bertanya namun tertahan karena bunyi lonceng sekolah
yang disusul dengan riuh gaduh seluruh siswa. Berakhir sudah penantian bersama.
“Anak-anak jangan lupa kerjakan tugas individu tentang contoh sikap kepahlawanan. Amati
lingkungan sekitar atau cari di internet, dikumpulkan pada pertemuan minggu depan ya. Boleh tulis
tangan, boleh juga diketik. Yang tidak boleh itu tidak mengerjakan!” Seketika kelas kembali gaduh
dengan gelak tawa siswa, Pak Chandra memang tipe orang yang humoris.
Kedua tangan ranting Ridwan bergantian memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas. Berdiri
sejenak untuk memakai tas lalu kembali duduk dan memimpin doa. Usai berterimakasih pada Tuhan
yang telah melancarkan kegiatan belajar mengajar, dengan tak sabaran seluruh siswa bangkit dari
bangku begitu juga dengan Ridwan yang sudah tak mampu menahan lapar.
“Jo, nanti beli cilok di depan sekolah dulu ya. Buat ganjel perut hehehe, nanti sampai rumah
langsung mandi terus sholat Jum’at.”

