Page 300 - BUKU MENYERAP ASPIRASI MENCIPTAKAN SOLUSI
P. 300
SATU TAHUN KIPRAH WAKIL KETUA DPR KORINBANG DR (HC) RACHMAT GOBEL
hadirin sekalian. Apalagi mengingat tema kuliah umum hari
ini adalah “Reposisi Gerakan SEMMI, Sumbangsih Nyata ter-
hadap Ummat dan Negara”.
Sebagaimana kita semua tahu, SEMMI adalah anak
kandung Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan H.
Samanhoedi di Solo, dan kemudian berganti nama menjadi
Syarikat Islam (SI), organisasi pergerakan umat yang sudah
lahir sejak era kolonial. Di bawah kepemimpinan Hadji
Oemar Said Tjokroaminoto, SI kemudian berkembang secara
revolusioner menjadi organisasi militan yang menentang
segala bentuk praktik hegemoni dan dominasi kekuasaan
para kolonialis dan imperialis pada saat itu.
Sejarah mencatat, pada 2 April 1956, Serikat Mahasiswa
Muslimin Indonesia (SEMMI) didirikan bersamaan dengan
berdirinya Majelis Tahkim Partai Syarikat Islam Indonesia
(PSII) di Bandung. Oleh karena itu tidak bisa disangkal, SEMMI
adalah “anak kandung” yang lahir dari rahim semangat
Syarikat Islam.
Hadirin yang saya hormati
Dalam term of reference (TOR) yang saya terima, ada
pertanyaan yang menggelitik yaitu Mampukah Islam sebagai
agama yang diklaim “rahmatan lil alamin dan sholihun li kulli
sama wa makan, menjadi mediator bagi perbedaan yang
ada di tubuh bangsa Indonesia yang kini terasa memanas?.
Pertanyaan kritis ini dilatar belakangi oleh kenyataan bahwa
sering kali perbedaan budaya, tradisi, agama menyebabkan
ketegangan dan konflik sosial.
Seperti kita lihat, salah satu problem yang menghantui
hubungan kita sesama anak banga saat ini adalah menguatnya
sentimen kecurigaan dan kebencian yang menjurus pada aksi
intoleran. Meningkatnya aura politik identitas dan sentimen
keagamaan telah menyuburkan praktik intoleransi. Ini tentu
279