Page 422 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 422

6)    Bahwa Pasal 21 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012
                   tentang Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Bagi Kepentingan
                   Umum bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat
                   (1) Undang-Undang Dasar 1945
                        Bahwa “Konsultasi Publik” sebagaimana yang diamanatkan
                   dalam Pasal 1 poin (8) Undang-Undang a quo adalah sebuah proses
                   “musyawarah” yang artinya tercapainya suatu kesepakatan adalah atas
                   kehendak antara para pihak. Akan tetapi konsultasi publik tidak diatur
                   untuk menuju kemufakatan karena keberatan dari hasil musyawarah
                   akan dilaporkan ke gubernur oleh instansi yang memerlukan tanah
                   bukan oleh pihak yang berhak dan atau masyarakat yang terkena
                   dampak.
                        Bahwa Pasal 21 ayat (1) ini telah menghilangkan partisipasi
                   masyarakat dalam menyampaikan keberatannya atas rencana
                   pembangunan. Dengan kata lain pihak yang berhak ataupun
                   masyarakat yang terkena dampak, dalam proses pelaporan keberatan
                   tidak lagi didudukkan sebagai subjek melainkan hanya sebagai objek
                   belaka.

             7)    Bahwa Pasal 23 ayat (1) UU Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan
                   Tanah Untuk Pembangunan Bagi Kepentingan Umum Bertentangan
                   Dengan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945
                        Bahwa berdasarkan Pasal 20, Pasal 21, dan Pasal 22 Undang-
                   Undang a quo, maka mekanisme keberatan berujung pada pengajuan
                   gugatan kepada Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) setempat
                   dengan jangka waktu paling lambat 30 hari kerja sejak dikeluarkannya
                   Penetapan Lokasi. Hali ini menimbulkan ketidakpastian hukum.
             8)    Bahwa Pasal 40 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Bertentangan
                   Dengan Pasal 28A Dan Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar
                   1945
                        Bahwa Pasal 40 Undang-Undang a quo tidak memasukkan
                   unsur masyarakat yang terkena dampak sebagai subjek yang berhak
                   menerima ganti rugi. Padahal dalam faktanya banyak masyarakat yang
                   terkena dampak yang tidak termasuk Pasal 40 Undang-Undang a quo
                   mengalami banyak kerugian akibat kegiatan maupun keberadaan
                   objek-objek pembangunan dengan dalih Kepentingan Umum.



                       Pemaknaan Hak Menguasai Negara Oleh Mahkamah Konstitusi  391
   417   418   419   420   421   422   423   424   425   426   427