Page 426 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 426

Indonesia. Wewenang tersebut digunakan untuk mencapai sebebsar-besar
             kemakmuran rakyat dalam arti kebangsaan, kesejahteraan, dan kemerdekaan
             dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia yang merdeka, berdaulat,
             adil, dan makmur.



             4.    Pengujian UU Kehutanan

             a.    Pemohon
                   1)   Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dalam hal ini
                        diwakili oleh Ir. Abdon Nababan (selanjutnya disebut Pemohon
                        I);
                   2)   Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Kenegerian Kuntu yang
                        diwakili oleh H.Bustamir sebagai Khalifah Kuntu,dengan Gelar
                        Datuk Bandaro (Selanjutnya disebut Pemohon II);
                   3)   Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Kasepuhan Cisitu yang
                        diwakili H. Moch. Okri alias H.Okri sebagai Olot Kasepuhan
                        Cisitu (Selanjutnya disebut Pemohon III);

                        Dalam hal ini berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 9
                   Maret 2012 memberi kuasa kepada Sulistiono, S.H., Iki Dulagin,
                   S.H., M.H., Susilaningtyas, S.H., Andi Muttaqien, S.H., Abdul
                   Haris, S.H., Judianto Simanjutak, S.H., Erasmus Cahyadi, S.H., para
                   Advokat dan Pengabdi Bantuan Hukum, yang bergabung dalam Tim
                   Advokat Masyarakat Adat Nusantara, beralamat di Jalan Tebet Utara
                   II C Nomor 22 Jakarta Selatan, Jakarta, Indonesia.


             b.    Pasal yang Dimohonkan dan Argumentasi Pemohon
                   Menurut para Pemohon hak konstitusional tersebut telah dirugikan
             oleh berlakunya pasal-pasal UU Kehutanan, yaitu:
             1)    Pasal 1 angka 6 UU Kehutanan sepanjang kata “negara”, yang
                   selengkapnya berbunyi: Hutan adat adalah hutan negara yang berada
                   dalam wilayah masyarakat hukum adat.
             2)    Pasal 4 ayat (3) UU Kehutanan sepanjang frasa “sepanjang
                   kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya, serta tidak
                   bertentangan dengan kepentingan nasional”, yang selengkapnya
                   berbunyi: Penguasaan hutan oleh negara tetap memperhatikan hak



                       Pemaknaan Hak Menguasai Negara Oleh Mahkamah Konstitusi  395
   421   422   423   424   425   426   427   428   429   430   431