Page 425 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 425

ada sengketa kepemilikan atas tanah yang belum ada putusan
                       pengadilan yang memperoleh kekuatan hukum tetap, tentulah
                       tidak dapat dilakukan konsultasi publik sebab belum diketahui
                       pihak yang berhak untuk diajak dalam konsultasi publik.


            e.   Analisis
                 MK memandang relasi antara HMN yang diatur dalam Pasal 2
            UUPA tidak dalam posisinya sebagai hak privat sebagaimana hak-hak
            atas tanah lainnya dalam Pasal 16 UUPA. Konsekuensinya, penguasaan
            dari negara tidak memberi kewenangan untuk menguasai tanah dalam
            pengertian hukum privat dan menggunakannya seperti hak-hak atas tanah
            lainnya. Inilah yang membedakannya dengan jual-beli tanah dalam konteks
            keperdataan. Pengadaan Tanah tidak dimaksudkan sebagai perjanjian
            jual-beli dengan tanah sebagai obyeknya, melainkan perbuatan hukum
            publik dari negara untuk memperoleh tanah yang akan digunakan untuk
            kepentingan umum dan kepentingan pembangunan.
                 Oleh karena itu, pengadaan tanah tidak menggunakan “Akta Jual
            Beli” (AJB) sebagai dasar peralihan haknya, melainkan “pelepasan hak”
            dari berbagai jenis hak atas tanah yang diatur dalam Pasal 16 UUPA. Hak
            atas tanah yang dilepaskan oleh pemiliknya akan melebur kembali ke
            dalam Hak Menguasai Negara. Pemilik tanah yang melakukan pelepasan
            hak akan mendapat “ganti kerugian” atas kerelaannya melepaskan hak atas
            tanahnya kepada negara. Berbeda dengan perbuatan hukum privat dimana
            yang terjadi bukanlah pelepasan hak, melainkan peralihan. Hak atas tanah
            akan beralih dari penjual kepada pembeli, dan disaat yang bersamaan
            penjual akan menerima sejumlah pembayaran yang besarnya ditentukan
            berdasarkan nilai tanah yang menjadi obyek transaksi.
                 UUPA menempatkan negara dalam posisi yang superior. Pada posisi
            tersebut negara diberikan hak yang disebut HMN. Istilah hak sendiri
            masih dapat dipertanyakan. Konsep hak cenderung melekat pada subyek
            hukum privat. Namun HMN sendiri dilekatkan pula pada negara yang
            notabene merupakan subyek hukum publik. Meskipun mengandung
            konsep hak di dalamnya, yang dimiliki oleh negara sebagai badan hukum
            publik sebenarnya lebih merupakan kewenangan dibandingkan hak.
            Wewenang yang melekat pada HMN merupakan kewenangan negara
            untuk mengatur dan mengawasi penguasaan tanah yang berada di wilayah




            394      Hubungan Keagrariaan
   420   421   422   423   424   425   426   427   428   429   430