Page 483 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 483

Alasan dikeluarkannya PMA ini dapat terlihat dari bagian
            “Mempertimbangkan” yang terdiri atas lima butir, dua di antaranya
            menyatakan:


                 “bahwa dalam kenyataannya pada waktu ini di banyak daerah masih
                 terdapat tanah-tanah dalam lingkungan masyarakat hukum adat yang
                 pengurusan, penguasaan dan penggunaannya didasarkan pada ketentuan
                 hukum adat setempat dan diakui oleh para warga masyarakat hukum adat
                 yang bersangkutan sebagai tanah ulayatnya’ dan ‘bahwa akhir-akhir ini di
                 berbagai daerah timbul berbagai masalah mengenai hak ulayat tersebut, baik
                 mengenai eksistensinya maupun penguasaan tanahnya”.

                 Peraturan Menteri ini menegaskan tentang realitas sosial bahwa
            banyak pengelolaan, penguasaan dan penggunaan tanah dilakukan
            berdasarkan pada hukum adat setempat, namun masih ada masalah-
            masalah berkaitan dengan hak ulayat atas tanah-tanah tersebut. Peraturan
            Menteri itu juga menegaskan otoritas pemerintah daerah kabupaten di
            dalam mengelola masalah pertanahan, mengacu pada Undang-Undang
            Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian
            digantikan oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Di pihak lain,
            Peraturan Menteri itu membatasi pengakuan terhadap hak ulayat atas tanah-
            tanah, tercantum di dalam  pasal 3, yang menyatakan bahwa pelaksanaan
            hak ulayat masyarakat hukum adat tidak dapat lagi dilakukan terhadap
            bidang-bidang tanah yang: (a) telah dimiliki oleh perorangan atau badan
            hukum yang memegang hak penguasaan tanah berdasarkan UUPA, dan (b)
            dimiliki atau diserahkan oleh suatu dinas pemerintah, badan hukum atau
            perorangan yang mengacu pada dan sesuai dengan perundang-undangan
            dan peraturan yang ada. 39
                 Ketentuan dalam Permenag mengenai bidang-bidang tanah tertentu
            yang tidak dapat dilaksanakan hak ulayat masyarakat hukum adat di
            atasnya tentu saja telah melanggar prinsip keadilan bagi masyarakat
            hukum adat. Plato menggambarkan keadilan pada jiwa manusia dengan
            membandingkannya pada kehidupan negara, mengemukakan bahwa jiwa
            manusia terdiri dari 3 bagian, yakni pikiran (logistikon), perasaan dan nafsu
            baik maupun jasmani (epithumatikon), rasa baik dan jahat (thumoeindes).
            Keadilan terletak dalam batas yang seimbang antara ketiga bagian jiwa


                 39 Komnas HAM, 2013, Kertas Posisi Komnas HAM terhadap Keputusan Mahkamah
            Konstitusi Nomor. 35/PUU-X/2012


            452      Hubungan Keagrariaan
   478   479   480   481   482   483   484   485   486   487   488