Page 486 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 486

Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
             Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan menjelaskan bahwa jenis
             dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:


             a.   Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
             b.   Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
             c.   Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
             d.   Peraturan Pemerintah;
             e.   Peraturan Presiden;
             f.    Peraturan Daerah Provinsi; dan
             g.   Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

                   Pada ayat (2) diatur bahwa kekuatan hukum Peraturan Perundang-
             undangan sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
                   Merujuk dari ketentuan undang-undang tersebut di atas, peraturan
             menteri tidak termasuk dalam hierarki peraturan perundangan, sehingga
             seharusnya peraturan menteri yang bertentangan dengan konstitusi dan
             undang-undang sebaiknya tidak dapat diberlakukan lagi.
                   Menurut penulis, di dalam praktek, masyarakat hukum adat banyak
             yang kehilangan hak ulayatnya karena Negara lebih banyak menggunakan
             asas kepastian hukum dibandingkan asas keadilan. Hal ini nampak dalam
             permenag nomor 5 tahun 1999 yang memuat ketentuan tanah yang
             telah dimiliki oleh perorangan atau badan hukum yang memegang hak
             penguasaan tanah berdasarkan UUPA, dan dimiliki atau diserahkan oleh
             suatu dinas pemerintah, badan hukum atau perorangan yang mengacu
             pada dan sesuai dengan perundang-undangan dan peraturan yang ada tidak
             dapat dilaksanakan hak ulayat di atasnya. Masyarakat hukum adat adalah
             masyarakat yang menggunakan hukum tidak tertulis, sehingga mereka
             tidak memiliki bukti atas tanah ulayatnya. Sehingga, apabila ada pihak lain
             yang memiliki bukti seperti sertipikat, maka pihak yang memegang bukti
             tersebutlah yang dimenangkan, meskipun mungkin pada kenyataannya
             tanah tersebut merupakan tanah ulayat.
                   Penegakan hukum sebagai “bussiness as usual” telah menjadi pekerjaan
             rutin dan mekanis yang melupakan gerak masyarakat yang terus berubah
             dalam berbagai segi kehidupan. Hukum dengan demikian hanya dipandang
             dari segi statiknya tetapi dilupakan dari segi progressnya. Padahal progress




                Pengakuan dan Perlindungan Hak Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat...  455
   481   482   483   484   485   486   487   488   489   490   491