Page 489 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 489

Setiap kelompok dalam tatanan dan struktur nagari tersebut
            menempati dan menguasai tanah dan kekayaan alam. Hubungan subyek
            hukum di setiap level dengan tanah dan kekayaan alamnya diistilahkan
            oleh orang Minangkabau sebagai ulayat. Semua level memiliki tanah ulayat,
            jadi ada ulayat nagari, ulayat suku, ulayat kaum, ulayat jurai, hingga ulayat
            perseorangan (keluarga). Maka, di dalam ulayat juga akan ditemukan “hak
            perdata perorangan”. Dalam konteks ini “hak ulayat” yang sesuai dengan
            UUPA (yakni hak publik persekutuan) hanyalah ulayat nagari, sedangkan
            ulayat pada level di bawahnya adalah hak milik adat baik bersifat komunal
            maupun privat.
                           47
                 Contoh lain keanekaragaman hak milik dalam masyarakat hukum
            adat adalah di masyarakat adat Mamahak Besar dan Long Bagun di
            Kalimantan Timur.  Hak membuka tanah untuk dijadikan ladang, hak
            atas pohon dan tanaman yang diberikan tanda menurut ketentuan adat
            merupakan hak perdata perorangan. Namun penguasaan tanah dan hasil
            hutan merupakan penguasaan bersama berdasarkan hak ulayat, yang
            kewenangan pengaturannya ada pada Kepala Adat. Pemuka adat memiliki
            kewenangan dalam mengatur hubungan pemanfaatan tanah dan hasil
            hutan kepada para anggotanya, namun tidak memiliki kewenangan untuk
            memberikan tanah kepada masing-masing anggotanya secara individu.
                                                                             48
                 Mereka juga menggunakan berbagai istilah untuk berbagai jenis
            kegiatan penggunaan dan pengolahan tanah, begitu pula yang berkaitan
            dengan hak perorangan. Berikut ini adalah contoh bentuk hak perorangan
            yang pada umumnya terdapat pada masyarakat hukum adat di Indonesia,
            meskipun dengan nama yang berbeda-beda:

            a.   Hak milik;
            b.   Hak memungut hasil tanah;
            c.   Hak wenang pilih atau hak pilih lebih dahulu;
            d.   Hak wenang beli;
            e.   Hak pejabat adat.


                 47 Kurnia Warman, “Hutan adat di ‘persimpangan jalan’: Kedudukan hutan adat di Sumatra
            Barat pada era desentralisasi”, dalam: Myrna A. Safitri dan Tristam Moeliono (eds), Hukum Agraria
            Dan Masyarakat Di Indonesia: Studi Tentang Tanah, Kekayaan Alam, Dan Ruang Di Masa Kolonial
            Dan Desentralisasi, hlm. 93-94. Jakarta: HuMa, Van Vollenhoven Institute, KITLV-Jakarta.
                 48 Nurul Elmiyah, “Negara dan Masyarakat Adat; Studi Mengenai Hak Atas Tanah dan Hasil
            Hutan di Mamahak Besar dan Long Bagun, Kalimantan Timur”, Disertasi di Fakultas Hukum,
            Universitas Indonesia, 2003, hlm. 308


            458      Hubungan Keagrariaan
   484   485   486   487   488   489   490   491   492   493   494