Page 487 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 487

itu juga mencerminkan perubahan yang semakin tinggi pada tuntutan,
            nilai-nilai dan harapan-harapan terhadap hukum. 46
                 Mahkamah Konstitusi sebagai Guardian of Constitution telah
            menggunakan hukum yang progresif, namun sesuai dengan nilai-nilai
            Pancasila. Salah satu hal yang menjadi perhatian Mahkamah Konstitusi
            adalah hak ulayat masyarakat hukum adat, yang selama ini sering
            terabaikan, padahal konstitusi sendiri mengakui keberadaan hak tersebut.
            Hak ulayat masyarakat hukum adat meliputi semua sumber daya alam,
            termasuk tanah, yang ada dalam lingkungan wilayah masyarakat hukum
            yang bersangkutan, baik yang sudah dihaki oleh seseorang maupun yang
            belum. Sehingga, dapat dikatakan bahwa hak ulayat merupakan “konsep
            mini” dari hak bangsa, karena masyarakat adat merupakan pemilik utama
            sumber daya agraria yang ada di wilayah adatnya, sehingga memiliki hak
            untuk mengatur dan memimpin penguasaan dan penggunaan sumber daya
            agraria di wilayah adatnya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa hak
            Ulayat mengandung dua aspek, yaitu:

            a)   Aspek keperdataan, yaitu berupa kewenangan mempunyai (entitlement
                 to posess) oleh masyarakat hukum adat terhadap wilayah ulayat (yang
                 meliputi tanah dan/atau perairan) termasuk sumber daya alam yang
                 terdapat di wilayah ulayat;
            b)   Aspek publik, yaitu berupa kewenangan mengatur penguasaan dan
                 penggunaan tanah ulayat dan sumber daya alam, baik oleh anggota
                 masyarakat hukum adat maupun oleh orang/pihak yang bukan
                 merupakan warga masyarakat hukum adat. Aspek ini melahirkan dua
                 sifat kekuatan keberlakuan kewenangan, yaitu kekuatan ke dalam
                 dan ke luar. Kekuatan yang berlaku ke dalam artinya memberikan
                 wewenang kepada penguasa masyarakat hukum adat untuk mengatur
                 penguasaan dan penggunaan wilayah ulayat itu oleh warga dan untuk
                 kepentingan masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Kekuatan
                 yang berlaku ke luar artinya memberikan kewenangan untuk
                 mengatur penggunaan/akses oleh orang luar terhadap tanah ulayat.


            b.   Hak Perorangan





                 46 Achmad Sodiki, op cit, hlm 5


            456      Hubungan Keagrariaan
   482   483   484   485   486   487   488   489   490   491   492