Page 535 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 535

bersama-sama dengan masyarakat adat atau masyarakat sipil. Dengan
                 demikian sekaligus memetakan dan mengukuhkan serta mengakui
                 keberadaan wilayah hutan adat. Kedua, perlindungan hak atas bidang
                 tanah masyarakat hukum adat pertama-tama harus disertai dengan
                 pengakuan negara (pemerintah) secara aktif oleh Pemda.
            4.   Terbuka peluang pendaftaran tanah hutan adat melalui Peraturan
                 Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan, Menteri
                 Pekerjaan Umum, dan Kepala BPN RI, Nomor 79 Tahun 2014,
                 Nomor PB.3/Menhut-11/2014, Nomor 17/PRT/M/2014, Nomor 8/
                 SKB/X/2014, tentang Tata Cara Penyelesaian Penguasaan Tanah yang
                 Berada dalam Kawasan Hutan. Peraturan Bersama ini merupakan
                 kesempatan baru terhadap pengakuan dan pendaftaran penguasaan
                 dan pemilikan tanah oleh masyarakat (perorangan maupun masyarakat
                 hukum adat) di dalam kawasan hutan. Kebijakan ini merupakan
                 langkah maju sebab memungkinkan pendaftaran hak atas tanah
                 (perseorangan dan adat) di wilayah kehutanan yang semula dipahami
                 bahwa kawasan hutan merupakan hutan negara. Pendaftaran hak atas
                 tanah dalam Peraturan Bersama itu melalui mekanisme dan proses
                 yang sama seperti pendaftaran tanah umumnya di kawasan non-hutan
                 dan subyek yang selama ini telah dikenal. Bedanya pemeriksaan dan
                 analisa dilakukan oleh Tim IP4T yang merupakan gabungan lintas-
                 sektor. Jenis hak yang diberikan sebagaimana diatur dalam Pasal 16
                 UUPA. Yang lebih penting adalah bahwa tanah yang dapat diteruskan
                 permohonannya adalah melalui penegasan hak. Akses tanah dalam
                 kawasan hutan ini merupakan bentuk nyata dari pelaksanaan reforma
                 agraria yang terbuka bagi beragam subyek hak, yakni perorangan,
                 badan pemerintah, badan sosial keagamaan, dan masyarakat hukum
                 adat, dan bukan badan hukum privat yang aksesnya melalui perijinan
                 sebagaimana biasa di luar Perber ini.
            5.   Ada beberapa kendala dalam Peraturan Bersama di atas. Ia masih
                 menempatkan masyarakat adat sejajar dengan subyek hak lain
                 (personal, dan badan usaha), dan belum dilihat sebagai pihak
                 yang dapat menjalankan peran pemegang Hak Menguasai Negara
                 (HMN), sehingga dapat menerima tugas pembantuan (medebewind)
                 dari negara. Selain itu, kategori hak yang dikenal hanyalah hak
                 perseorangan, padahal di masyarakat adat mengenal hak ulayat yang
                 di dalamnya terdapat hak perseorangan, kolektif, dan komunal. Perlu


            504      Hubungan Keagrariaan
   530   531   532   533   534   535   536   537   538   539   540