Page 393 - Konstitusionalisme Agraria
P. 393

menurut Mahkamah Konstitusi ketentuan Pasal 33 UUD 1945 tidaklah
            menolak privatisasi, sepanjang privatisasi itu tidak meniadakan
            penguasaan negara c.q. Pemerintah untuk menjadi penentu utama
            kebijakan usaha dalam cabang produksi yang penting bagi negara dan/
            atau menguasai hajat hidup orang banyak. Pasal 33 UUD 1945 juga
            tidak menolak ide kompetisi di antara para pelaku usaha, sepanjang
            kompetisi itu tidak meniadakan penguasaan oleh negara.
                 Bahkan keberadan modal asing bukanlah sesuatu yang
            diharamkan berdasarkan UUD 1945. Terkait dengan keberadan
            modal asing, Mohammad Hatta berpendapat harus diposisikan
            sebagai alternatif terakhir dalam pengusahaan sumber daya alam
            setelah dimaksimalisasi pengusahaannya oleh dalam negeri (koperasi
            dan badan usaha negara). Hatta menyebutkan (Hatta, 1985:1-13):

                 “Cara begitulah dahulu kita memikirkan betapa melaksanakan
                 pembangunan ekonomi dengan dasar Pasal 33 UUD 1945. Terutama
                 digerakkan tenaga-tenaga Indonesia yang lemah dengan jalan
                 koperasi, kemudian diberi kesempatan kepada golongan swasta untuk
                 menyerahkan pekerjaan dan kapital nasional. Apabila tenaga nasional
                 dan kapital nasional tidak mencukupi, kita pinjam tenaga asing dan
                 kapital asing untuk melancarkan produksi. Apabila bangsa asing tidak
                 bersedia meminjamkan kapitalnya, maka diberi kesempatan kepada
                 mereka untuk menanam modalnya di tanah air kita dengan syarat-
                 syarat yang ditentukan oleh Pemerintah Indonesia sendiri. Syarat-
                 syarat yang ditentukan itu terutama menjamin kekayaan alam kita,
                 seperti hutan kita dan kesuburan tanah air kita, tetap terpelihara.”

                 Namun dalam kenyataannya hari ini modal asing bukan lagi
            diposisikan sebagai alternatif terakhir dalam pembangunan dan
            pengelolaan sumber daya alam. Putusan Mahkamah Konstitusi
            dalam pengujian UU Penanaman Modal juga ‘mengamini’ bahwa
            modal asing memainkan peranan penting dalam pembangunan
            ekonomi dan tidak boleh ada pembedaan antara modal dalam
            negeri dengan modal asing sebagaimana dipromosikan World Trade
            Organization (WTO) dan melalui General Agreement on Tariffs and
            Trade (GATT).





               362     Konstitusionalisme Agraria
   388   389   390   391   392   393   394   395   396   397   398